Risauan Hati Si Anak (part 1)
Seorang anak duduk termangu di bawah pohon. Matanya menerawang, mulutnya bergeming, hatinya carut marut tak karuan. Dalam hati dia berpikir, "Apakah ini proses kedewasaan?" Dewasa apakah berarti sedang bingung pada pilihan-pilihan yang akan menentukan nasib hidup?
Tua itu pasti, tapi dewasa tidak. Dewasa itu butuh proses. Dewasa tidak mengenal umur dan keadaan. Bagaimana kita bersikap itulah menentukan kedewasaan kita. Tempaan suatu proses dan keadaan menjadikan kita lebih dewasa.
Sang anak sibuk mencari sebuah definisi dari kata dewasa karena bimbang akan pilihan hidup. Otak kirinya sibuk mencari alasan logis atas sebuah pilihan tertentu. Otak kanannya mencoba mengembangkan imajinasi masa depan, efek salah satu pilihan tersebut. Inilah kehebatan si anak, otak kanan dan otak kirinya dapat bekerja serempak. Tapi hatinya masih carut marut tak karuan. Jauh lebih jauh sebelum pilihan-pilihan itu muncul, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Kata-kata dari orang yang dia anggap asyik diajak ngobrol tanpa canggung telah menggores hatinya. Kata-katanya terdengar biasa, tapi entah kenapa si anak merasa kata-kata itu telah memojokkan dan menganggap remeh dan rendah si anak. Celakanya, hal ini paling dibenci oleh anak tersebut. Kata-kata menyakitkan itu bertubi-tubi terlontar. Kalimat demi kalimat pesimis menghujani semangat si anak yang tengah berkobar. Si anak akhirnya tau karakter orang tersebut. Si anak lantas berpikir, apakah aku masih mau bekerjasama dengan tipikal orang seperti ini? Mengingat dia orang yang sangat berpengaruh di daerah ini. Apakah kutinggalkan saja? Ditinggal atau tidak itu memiliki resiko masing-masing.
Si anak menyalahkan keputusannya saat itu. Kenapa dia memilih bekerja dengan orang itu. Memang, di saat kita sudah tersesat dengan masa sekarang, maka kita akan menyalahkan masa lalu.
Tiit--- tiit -- tiit…. hape pintar si anak berdering. Dari ayahnya. Ayahnya mengomel karena sudah lama menunggu si anak. Beberapa menit yang lalu si anak meminta jemputan. Si anak yang tadi menunggu jemputan di bawah pohon, sekarang diomeli ayahnya karena ada misscom soal tempat jemputan. Namun, si anak tetap menerawang menatap pemandangan luar sepanjang perjalanan bingung pada pilihan yang akan diputuskannya.
Ps :
Anak itu membuat pilihan untuk terus bertahan, dan bekerjasama dengan orang itu. Walaupun itu sulit, tapi akan tidak bijak bila kerjasama ini terputus tanpa ada alasan yang jelas. Lagipula, akan lebih bahaya jika orang itu tidak menjadi partnernya. Jadi dia memilih untuk bertahan. Bukankah semua proses itu tergantung sikap kita dan bukan sikap orang lain? Si anak percaya bahwa semua bisa diatasi dengan tawakal, kesungguhan, dan doa. Bila Tuhan sudah bertindak, maka tidak ada yang bisa menghalangi apalagi hanya seseorang seperti dia.
Ps :
Anak itu membuat pilihan untuk terus bertahan, dan bekerjasama dengan orang itu. Walaupun itu sulit, tapi akan tidak bijak bila kerjasama ini terputus tanpa ada alasan yang jelas. Lagipula, akan lebih bahaya jika orang itu tidak menjadi partnernya. Jadi dia memilih untuk bertahan. Bukankah semua proses itu tergantung sikap kita dan bukan sikap orang lain? Si anak percaya bahwa semua bisa diatasi dengan tawakal, kesungguhan, dan doa. Bila Tuhan sudah bertindak, maka tidak ada yang bisa menghalangi apalagi hanya seseorang seperti dia.
Komentar
Posting Komentar