Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Berdamailah.. (epilog)

Ada penelitian soal apa yang membuat manusia menjadi manusia super. Itu  adalah: "Manusia itu sendiri. " Tidak ada alat atau obat yang bisa melampaui emosi manusia. Ukuran bagi antibodi manusia adalah ingatan. Itu adalah antibodi yang kuat. Maka jangan sekali-kali mengatakan "lumpuhkanlah ingatanku". Jangan sekali-kali mengatakan "lupakanlah semua". Biarkan memori baik atau buruk itu untuk dikenang. Suatu saat kita akan tahu ada manfaat tuk punya memori-memori tersebut. Jadi terimalah semua memori itu. Sesungguhnya lebih lega bila kita menerima memori-memori itu daripada mencoba untuk melupakannya, untuk memori yang menyakitkan sekalipun. Kuncinya ikhlas. Terimalah. Jangan dilupa. Terimalah. Jangan dipikir. Sesungguhnya itu hanya sekelumit dari memori kita. Masih banyak memori yang indah yang akan menunggu. Maka akan sangat tidak penting bila kita terus terbayang akan memori itu dan dengan sangat tersiksa mencoba tuk melupakannya. Yang kita lakukan ...

part 6

Maaf memang sudah terucap. Kebaikan memang sudah terbukti. Namun, hasil apa yang telah ada. Ya, mungkin kali ini sang anak harus merelakan penghargaan tentang jerih payahnya. Tekanan batin tentang perjuangannya. Sang anak lupa, kau sudah berhadapan dengan siapa. Kau sudah berhadapan dengan macannya hutan. Baiklah, yang dilakukan Sang anak kali ini hanyalah berdamai. Bukan berdamai dengan Orang itu. Bukan berdamai dengan rekan, kawannya. Namun, berdamai dengan hatinya. Itu yang dia bisa lakukan. Bukankah setelah separuh hati kita hancur, masih ada separuh hati yang lain. Separah-parahnya hancur tentu masih ada sepotong hati yang masih apik, tak malfungsi. Biarkan sepotong hati yang baru ini mengembang, merekah, dan menjalankan fungsinya dengan baik. Dan jangan biarkan sepotong hati ini melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. S.e.m.o.g.a... sekian...

part 5

Orang itu sudah melaksanakan tugasnya. Lagi-lagi Si anak berusaha memperbaiki proyeknya dan alhasil aneh tapi nyata orang itu menyetujui si anak untuk menggelar pertunjukkan atas proyeknya. Senyum merekah pada sang anak. Jawaban2 indah seperti ini, respon positif ini entah datang darimana. Bidadari mana yang telah membisikkan suara merdu pada orang ini. Tak peduli datang darimana, bidadari apapun bentuknya, ini adalah kekuasaan Tuhan. Sang anak sangat bungah tak terkira. Akhirnya kepastian atas proyeknya dapat tepat waktu terealisasi. Alhamdulillah.. Malam ini, beribu ribu kata syukur terucap dari bibirnya. Bulir demi bulir air mata suka cita membasahi pipi cabinya. Sungguh, ini adalah karunia Tuhan tak terkira.                                                                              ...

part 4

Si anak tidak bertemu dengan orang itu. Empat hari terlewatkan sudah. Kau tidak akan pernah mengerti betapa pentingnya waktu satu detik bagi Sang anak. Dan kini empat hari itu terbuang sudah sia-sia. Apakah ini ujian kesabaran? Apakah ini ujian keikhlasan? Si anak terus bertanya-tanya dalam hati. Yang lebih menyakitkan tidak ada yang memahami kemelut hati si anak. Semua sibuk dengan aktivitas duniawi masing-masing. Terlebih lagi orang itu, mana mau tahu kegundahan hati Si anak yang seharusnya harus melaju gerak cepat bagai rusa namun harus terhalang karena ada naga yang berdiri penuh kuasa di hadapannya. Ah, lagi-lagi Si anak harus berjuang sendiri dalam ritme kehidupannya. Dia slalu menunggu seseorang yang mampu menemani dan memahami suara batin dan sinkronisasi pikirannya. Besok adalah waktunya, pikir si anak. Namun, tetap saja Si anak selalu bimbang dan mati kutu bila bertemu orang itu. Dalam hati, Si anak bergumam resah, Besok,,, Eotdokke??? Besok... Sudah selesai kah??...

part 3

Ini masi permulaan, belum final result . Si anak diam termenung mengheneningkan cipta menunggu alunan merdu nan sejuk dari sang muadzin sebagai pertanda beduk bertalu talu, ayam berkokok kokok, serta sang pusat galaksi kita yang malu-malu perlahan menampakkan wajahnya. Kemarin, sang anak sudah menemui kepala batu itu dan mengiba-iba, membuang semua harga dirinya, tuk meminta kejelasan tentang nasibnya. Ibarat lampu lintas di perempatan  Jalan Sudirman yang sedang disumpahi puluhan pengendara motor dan deretan mobil. Dulunya masih lampu merah, kini brubah menjadi lampu kuning durasi ratusan detik. Pantas saja disumpahi, karena lampu hijau hanya menyala beberapa detik saja, kemudian disusul lampu merah dan kuning beratus-ratus detik. Macet benar di perempatan Jalan Sudirman. Para pengendara harus bersabar bila melintas di jalan ini. Lupakan tentang Jalan Sudirman. Cerita ini perihal Si anak. Sinyal lampu merah dari orang itu, kini berubah menjadi lampu kuning. Sayang, seperti p...

part 2

Seiring berjalannya waktu, si anak sudah menyelesaikan proyeknya. Deadline pengumpulan sudah semakin dekat. Tapi orang tersebut tidak segera memberikan kontribusi kerjasamanya. Di sisi lain, butuh persetujuan dari orang itu agar proyek ini selesai. Tidak ada yang bisa dilakukan anak itu selain berharap. Dengan sabar dia menemui orang itu dan menanyakan kelanjutan proyeknya. Dengan sabar pula dia mendengar sebuah jawaban yang sangat tidak pasti. Dengan sabar dia menanti, berharap penuh agar selesai tepat waktunya. Dalam hati, dia cemas tak karuan dan mulai berfilosofi, imajinasi, halusinasi. Lagi2 otak kanan kirinya bekerja. Otak kiri mencari alasan logis jika proyeknya tidak selesai tepat waktu. Otak kanan berimajinasi membayangkan setting tempat dan waktu untuk menjelaskan alasan proyeknya tidak selesai tepat waktu serta dampak yg timbul. Terlalu banyak berandai2 membuat hati risau dan otak pusing. Akhirnya si anak mencoba alternatif lain. Kenapa sibuk memikirkan alasan proyek yang...

Risauan Hati Si Anak (part 1)

Seorang anak duduk termangu di bawah pohon. Matanya menerawang, mulutnya bergeming, hatinya carut marut tak karuan. Dalam hati dia berpikir, "Apakah ini proses kedewasaan?" Dewasa apakah berarti sedang bingung pada pilihan-pilihan yang akan menentukan nasib hidup? Tua itu pasti, tapi dewasa tidak. Dewasa itu butuh proses. Dewasa tidak mengenal umur dan keadaan. Bagaimana kita bersikap itulah menentukan kedewasaan kita. Tempaan suatu proses dan keadaan menjadikan kita lebih dewasa. Sang anak sibuk mencari sebuah definisi dari kata dewasa karena bimbang akan pilihan hidup. Otak kirinya sibuk mencari alasan logis atas sebuah pilihan tertentu. Otak kanannya mencoba mengembangkan imajinasi masa depan, efek salah satu pilihan tersebut. Inilah kehebatan si anak, otak kanan dan otak kirinya dapat bekerja serempak. Tapi hatinya masih carut marut tak karuan. Jauh lebih jauh sebelum pilihan-pilihan itu muncul, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Kata-kata dari orang yang dia ...
Di tengah sengsara hidup ini, kekalutan hidup, keburukan hidup masih ada satu kata yang tersisa yaitu sebuah harapan. Ya, seperti dalam mitos Yunani kotak pandora. Karena terpikat akan keindahannya, Pandora membuka kotak pemberian Zeus. Semua keburukan umat manusia semburat dari kotak ini. Hingga satu yang tersisa pada kotak ini, yaitu sebuah harapan. Mungkin maksud dari mitos Yunani ini, di tengah dua kekalutan duniawi, manusia masih memiliki satu kata untuk bertahan. Kata itu adalah harapan. Hope is a dream that doesnt sleep!