Surat Kecil untuk Tuhan
Calm City, A half year of 2016 To: Tuhan Semesta Alam Dear God, Ini sama seperti 6 tahun silam. Di mana saat itu aku berjuang tuk mengakhiri masa abu-abuku. Saat itu, ku takut kehilangan dirinya. Saat itu, entah darimana jati diri melankolis ini datang, pikiran-pikiran dia akan pergi seakan menghantui. Takut bila memang terjadi. Tidak mau bila itu jadi kenyataan. Tidak siap bila harus pergi. Tak sanggup bila secepat itu. Sakit, hancur, bila memang itulah takdirnya. Seakan belum menghasilkan apa-apa. Seakan belum membalas jasanya. Seakan tak berguna saja diri ini. Saat itu, Tuhan mengabulkan permintaanku. Saat itu, Tuhan berbaik hati menggoyangkan kelingkingnya tuk mengubah yang awalnya tak mungkin menjadi mungkin. Ya, Tuhan mungkin iba pada kerja rodiku. Tuhan mengizinkanku melukis senyum indah di bibirnya. Tuhan membuatku sedikit lebih berguna dan berharga setelah kian lama aku tak berkiprah apa-apa. Entah karena keajaiban apa, atau memang sudah cocok akan ob...