Surat Kecil untuk Tuhan
Calm City, A half year of 2016
To:
Tuhan Semesta Alam
Dear God,
Ini sama seperti 6 tahun silam. Di mana saat itu aku berjuang tuk mengakhiri masa abu-abuku. Saat itu, ku takut kehilangan dirinya. Saat itu, entah darimana jati diri melankolis ini datang, pikiran-pikiran dia akan pergi seakan menghantui. Takut bila memang terjadi. Tidak mau bila itu jadi kenyataan. Tidak siap bila harus pergi. Tak sanggup bila secepat itu. Sakit, hancur, bila memang itulah takdirnya. Seakan belum menghasilkan apa-apa. Seakan belum membalas jasanya. Seakan tak berguna saja diri ini. Saat itu, Tuhan mengabulkan permintaanku. Saat itu, Tuhan berbaik hati menggoyangkan kelingkingnya tuk mengubah yang awalnya tak mungkin menjadi mungkin. Ya, Tuhan mungkin iba pada kerja rodiku. Tuhan mengizinkanku melukis senyum indah di bibirnya. Tuhan membuatku sedikit lebih berguna dan berharga setelah kian lama aku tak berkiprah apa-apa. Entah karena keajaiban apa, atau memang sudah cocok akan obatnya, senyum itu kembali merekah ayu.
Tahun ini sama seperti dulu. Sakit itu kembali menyerang.
Kali ini mungkin lebih sakit. Kali ini, penawar yang biasanya pun tak mempan.
Ah, Tuhan.. apakah kali ini kau akan kabulkan doaku? Doaku tentu berbeda dari
enam tahun yang lalu. Berbeda namun ada sama. Serupa tapi tak sama. Jelas bila
ku tak mungkin kerja rodi layak enam tahun lalu. Mungkin, saat ini ku lebih
santai. Namun, tetap saja terkejar oleh waktu. Mungkin dulu cuma kerja rodi
otak yang ada solusinya. Saat ini, bukan kerja rodi. Namun, lelah akan pikiran
dan hati. Pikiran rumit dan takut entah kemana. Hati yang kian berlabuh namun
harus tunduk akan pikiran dan kewajiban sebagai anak manusia.
Ah, Tuhan..
bisakah Kau sederhanakan permasalahan pelik ini? Tuhan, bolehkah aku kembali
melukis senyum di bibirnya?
Tuhan, bagaimana caranya senyum itu kembali
merekah?
Apakah dari buah kerja kerasku Tuhan?
Tuhan, apakah aku terlalu
serakah untuk memohon padaMu yang kedua kalinya?
Tuhan, bolehkah senyum itu
terus merekah hingga melihat buah-buah hatinya beranjak dewasa memadu kasih
dengan jodohnya dan membangun rumah-rumah kecil?
Tuhan, banyak mimpi yang masih
belum tercapai.
Tuhan, izinkan senyum itu terus merekah dengan hangat.
Tuhan, apakah Kau beri kondisi yang sama seperti 6 tahun
lalu untuk membuatku bangkit dari zona nyamanku?
Akankah hasil akhirku sama
seperti enam tahun yang lalu?
Tuhan, sesungguhnya diri ini sudah tak seambisi
duu.
Tuhan, mungkin asas nothing is impossible sudah tak berlaku bagi diri ini.
Tuhan, apakah Kau akan mewujudkan possible itu?
Ah, Tuhan… aku hanya berusaha.
Engkaulah Sang Penentu hasil. Tuhan, harapan utamaku saat ini adalah senyum itu
kembali merekah. Tak apa walau kutinggal labuhan hati. Ikhlas bila harus kerja
rodi. Legowo bila masa depan tak jelas. Tak ada yang lebih indah dari
senyumannya.
Tuhan, izinkanku menggantikannya menerjang badai kehidupan ini.
Tuhan,
apakah hasil akhirku juga mempengaruhi senyumannya?
Tuhan, berikan cara yang
terbaik untuk mengembalikan senyumannya. Aku sudah tak ada ambisi. Yang aku
lakukan hanya bagaimana menggantikannya dan senantiasa melukis senyum di
bibirnya.
Tuhan, izinkan diri yang tak berguna ini sekali lagi merasa sedikit
berguna bagi pemilik senyum itu.
Tuhan, bimbinglah hamba pada jalan di mana
hamba bbisa menggantikannya melawan kerasnya dunia ini.
Tuhan.. maafkan bila ku
terlalu serakah. Maafkan aku yang tak
pantas bila harus menerima pertolonganMu.
Tuhan… harus kuganti apakah agar
keinginanku ini tercapai?
Tuhan… kabulkan doaku.
Tuhan… kabulkan doaku.
Tertanda,
Dari hamba yang butuh belas kasihanMu
Komentar
Posting Komentar