part 5

Orang itu sudah melaksanakan tugasnya. Lagi-lagi Si anak berusaha memperbaiki proyeknya dan alhasil aneh tapi nyata orang itu menyetujui si anak untuk menggelar pertunjukkan atas proyeknya. Senyum merekah pada sang anak. Jawaban2 indah seperti ini, respon positif ini entah datang darimana. Bidadari mana yang telah membisikkan suara merdu pada orang ini. Tak peduli datang darimana, bidadari apapun bentuknya, ini adalah kekuasaan Tuhan. Sang anak sangat bungah tak terkira. Akhirnya kepastian atas proyeknya dapat tepat waktu terealisasi. Alhamdulillah..
Malam ini, beribu ribu kata syukur terucap dari bibirnya. Bulir demi bulir air mata suka cita membasahi pipi cabinya. Sungguh, ini adalah karunia Tuhan tak terkira. 
                                                                                                                                                                 
Pertunjukan itu telah selesai. Sang anak tersenyum lega. Bukan lega karena berakhir dengan sukses, namun lega karena sudah selesai. Belakangan si anak tau lewat kata kata orang2, bahwa pertunjukannya sangat konyol. Sungguh naif. Sungguh miris.
Di hamparan padang rumput, si anak merenung atas kebodohan sifatnya. Ingin sekali membuang jauh sifat-sifat yang membuat dirinya terlihat konyol, dungu, dan tak terakui sebagai rang cendikia. Si anak baru sadar, dia telah merusak hasil perjuangannya selama 5 bulan yang dilakukannya dengan berdarah-darah hanya dalam waktu 1 hari. Hanya karena sifat yg sudah mendarah daging padanya. Sifat yang ingin sekali dia buang saat ini.
Hembusan angin mendukung cuaca yang dingin di bulan Juli ini menambah aura kesepiannya. Sang anak semakin frustasi bila melihat ke belakang atas usahanya selama ini. Jerih payah, cucuran keringatnya sama sekali tak berbuah dalam penentuan satu hari itu. Dia hanya berdiri konyol, bicara ngawur ke utara-selatan tak jelas dan tak dimengerti semua orang.
Sang anak kembali merenung sendu. Dia hanya merasa kerja rodinya selama berbulan-bulan tak ada harganya dalam satu hari. Apakah penghargaan atas sebuah proses dan kerja keras masih berlaku dalam hal ini? Apakah kepercayaan tentang Tuhan yang akan memberi reward atas setiap bulir keringat kita masih ada? Bagaimana dengn teori tentang hasil yang berbanding lurus dengan usaha? Tiba-tiba saja Sang anak muak dengan kalimat-kalimat itu. Kalimat-kalimat yang selalu memberinya motivasi untuk terus maju apapun keadaanya. Apakah kemampuan seseorang tidak bisa dirubah dengan dilandasi kerja keras dari anak tsb? Sudah berapa bulir air mata dan keringat yang ia cucurkan? Tapi hasilnya adalah nol.
Sang anak mulai menangis tersedu sedu melihat kedunguannya. Bolehkah bila dia masi percaya tentang buah dari suatu kerja keras yang telah terbukti kebenaranya? Mengapa itu tidak terbukti padanya? Sungguh, kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga Tuhan tidak memberikan buah hasil itu. Mengapa sifat itu memilih dirinya....
Setelah kejadian itu, Si anak tidak berani bermimpi lebih jauh. Dia takut akan suatu masa dpan. Ingin rasanya menyudahi masa ini, dan masa selanjutnya. Dalam hati dia sudah muak dipandang dungu, tak jelas, dan tak rupa. Dalam renungannya dia menunggu seseorang yang mampu mendengar keluh kesah, mengerti dia, mensuport dia, dan mempercayai dia. Bukan hanya sekedar teman yang berhahahihi menganggap sifatnya itu adalah sbuah lelucon. Juga bukan hanya teman yang slalu minta diajari namun tidak memberi sekalipun. Serta bukan teman  kecil yang hanya diam tak bergeming, pasrah atas keanarkisannya, Sang anak masih menunggu teman yang dapat dipercaya, mampu menyimpan keluh kesahnya dan mampu memberikan solusi.
Terus terang, sang anak tak berani melaju ke dunia masa depan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?