part 3

Ini masi permulaan, belum final result. Si anak diam termenung mengheneningkan cipta menunggu alunan merdu nan sejuk dari sang muadzin sebagai pertanda beduk bertalu talu, ayam berkokok kokok, serta sang pusat galaksi kita yang malu-malu perlahan menampakkan wajahnya. Kemarin, sang anak sudah menemui kepala batu itu dan mengiba-iba, membuang semua harga dirinya, tuk meminta kejelasan tentang nasibnya.
Ibarat lampu lintas di perempatan  Jalan Sudirman yang sedang disumpahi puluhan pengendara motor dan deretan mobil. Dulunya masih lampu merah, kini brubah menjadi lampu kuning durasi ratusan detik. Pantas saja disumpahi, karena lampu hijau hanya menyala beberapa detik saja, kemudian disusul lampu merah dan kuning beratus-ratus detik. Macet benar di perempatan Jalan Sudirman. Para pengendara harus bersabar bila melintas di jalan ini.
Lupakan tentang Jalan Sudirman. Cerita ini perihal Si anak. Sinyal lampu merah dari orang itu, kini berubah menjadi lampu kuning. Sayang, seperti pada simpangan Jalan Sudirman, lampu kuning  memiliki durasi ratusan detik membuat jengah pengendara. Begitu pula sang anak yang jengah, harap2 cemas menunggu orang itu. Si anak sudah menyelesaikan proyek permintaan orang itu. Jangankan dikomentari, dilihat saja belum. Si anak kembali terpuruk dalam ranjau yang sama. Di luar lingkaran ranjaunya, banyak teman-temannya bersay "hello", basa basi menanyakan kapan proyeknya selesai. Yang lebih menyakitkan tidak sedikit temannya yang bersay "goodbye" melaju jauh di depan Sang anak tuk menempuh strata lebih tinggi. Ah, sial nian nasib sang anak. Sudah trjerat ranjau, ditinggal teman pula.
Tapi bagaimana lagi. Siapa pula yang mau menanti teman yang tak pasti kapan selesainya, apalagi hanya dengan dalih kata "setiakawan". Terkait ranjau, ranjau ini memang pilihan Sang anak. Yang lebih sial lagi, Sang anak ingin marah, mencaci maki, meraung raung tapi tak tau pada siapa. Ah, sial benar nasib Sang anak.
Sang anak hanya bisa berdoa. Sang anak hanya bisa meminta belas kasihan Tuhan atas nasibnya. Sang anak hanya mempercayakan semua pada Tuhan. Bukankah tidak ada kekuatan yang lebih tinggi daripada Tuhan? Ingat, mereka semua hanya manusia. Akan lain ceritanya bila Tuhan sudah turun tangan. Yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia atas mimpi dan kerja kerasnya adalah mempercayai suatu saat akan ada penghargaan berupa mimpi terbaiknya atas kerja keras. Jika tidak, maka akan ada mimpi yang jauh lebih baik yang tiada pernah terencana.
Malam itu, sang anak menengadah tangan, merintih, menangis, mengemis pertolongan Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guys, do you read it?

part 5