Postingan

The Grey of July

 Aku baru memejamkan mata. Samar-samar kurasakan getaran dari ponselku, pertanda pesan masuk. Kubaca pesan. Aku bangun terduduk. Tubuh yang awalnya lelah karena kurang tidur seketika bangun.  "Eyang telah tiada" Aku terduduk diam melamun, menjelajahi kenangan terakhir kali bertemu beliau. Aku termangu, menatap dinding kosong. Kenangan-kenangan masa kecil tentang beliau pun tergambar. Aku melamun lama. Kubergegas mandi pagi, ambil air wudhu, dan menunaikan sholat Dhuha serta berdoa untuk mengantar kepergian beliau, sambil mengucap Yasin.  Malam berganti malam. Kirim doa serta tahlil memenuhi tujuh malam selepas kepergian Eyang. Ungkapan duka masih menyelimuti rumah Eyang. Begitu pula di rumah kami, rumah saudara-saudari kami, kamar perantauan cucu-cucunya masih sayup-sayup terdengar Yasin selama tujuh hari berturut-turut. Setelah tujuh hari, kami mencoba untuk selesai berlarut dengan kesedihan, menerima kepergian dengan ikhlas. Aku pun kembali menjadi pelayan virtual yang ...

Overthinking Jaman Now

Overthingking model apa ini, Tuhan? Lu pernah gak ngerasa iba pas liat orang yang uda tua? Orang yang uda tua, tanpa sanak sodara, tanpa tabungan, itu bakalan hidup kyk gmn.. Lu pernah ga si mikirin hal itu? Apa gue yang terlalu overthinking ni malem2? Atau karna efek gue sedang memikirkan desa kampung halaman,,, di mana itu kondisi relate banget tuh Entahlah..  Gue akhir-akhir ini,,, eh sorri.. bukan akhir-akhir ini.. tapi belakangan ini.. eh sama aje miskah..  Yaaa.. dua tiga tahun terakhir ini lah..  Gua jadi mikir..  Manusia memang enak hidup untuk masa yang panjang. Tapi kalau hidup terlalu panjang, itu akan jadi lebih meresahkan ga si? Jadi menambah beban ga si? Katakanlah lu hidup sampai umur 90. Di mana itu lu uda ga bisa ngapa2in, tinggal berbaring doang. Semua-mua nya dibantu orang lain. itu lebih berat nggak si? Atau lu diberi kesempatan hidup panjang, tapi lu gak prepare untuk finansial. Itu lebih sengsara ga si? sedangkan batas orang produktif hanyalah s...

Waktu yang Tepat

 “PPKM Darurat resmi diadakan mulai hari ini hingga 2 minggu ke depan”, ucap Presiden di istana kepresidenan. Semua kamera dengan mode flash on menuju ke arahnya. Seketika semua berita di media sosial meliput hal yang sama. PPKM darurat menjadi cuitan paling trending , topik yang paling hangat di semua konten media sosial. Aku melihat berita dengan tatapan malas, no response  dan tentunya berpikir sama seperti masyarakat luas pikirkan. Ah, paling juga sama saja. Di semua aturan yang tertulis selalu ada pengecualian-pengecualian untuk pihak-pihak tertentu. Kututup layar kaca yang menyiarkan berita terkini pagi ini dan melanjutkan kembali merebahkan diri untuk tidur.               Aku sebenarnya sudah tidak peduli. Sudah berkurang rasa takutku. Jujur aku termasuk orang yang diuntungkan pada saat pandemi. Namun kabar pagi ini   (tentunya bukan kabar darurat negara yang aku lihat di berita tadi), mendorongk...

When I am in Red Zone of Pandemic 2020

Gambar
Jakarta. Jakarta terkenal dengan julukan kota yang tak pernah tidur. Jakarta yang selalu ramai walau sudah gelap. Jakarta dengan kejenuhan macetnya. Jakarta yang membuat orang lebih tua berada di jalanan. Akan tetapi.. Pemandangan kali ini nampak berbeda. Jalanan yang biasanya riweh dengan bunyi klakson bersaut-sautan, para penyeberang jalan yang stuck bingung untuk menyeberang, mobil yang berderet-deret antre tuk kuasai jalan, sekarang tak nampak. Para pekerja kantoran dengan baju disetrika yang sudah kusut lagi berlari-lari mengejar busway pun sekarang hanya tampak beberapa dan itu pun tak berlari-lari. Busway dan kereta yang biasa berjubel sekarang terasa lenggang. Jalanan sepi seperti layaknya lebaran. Tapi, sekarang bukanlah lebaran. Bukan holiday pula. Sekarang masih hari efektif di mana semua orang pasti sedang sibuk-sibuknya dikejar deadline atas pekerjaannya. Tapi kali ini, Jakartaku sedang istirahat. Ada yang lebih penting dari tumpukan deadline yang melulu tak...

I am Malala - Short summary by me -

Gambar
Who is Malala? Malala is a girl who stand up for education in this country. She was Pashtun girl, in Pakistan. Pakistan has a strict government who restrict their citizen to speak up their idea, especially restrict woman freedom. They called as Taliban. They believe their religion, Islam restrict woman to have education. They claim woman must stay at home and don’t need go to school. Malala has different perception about Islam's perspective for woman’s education. She speaks her idea and influences another to still go to school even government restrict it. By her online speech, she being known well around the world. But, the government doesn’t accept her propose, and deny it. In that area, people who cross the rule must get punishment.  One day, Malala and her friend was going to school by bus. In the middle of the way, Taliban’s militer stop the bus.   They shout “who is Malala”. Without hear any answer, they shot one by one girl in the bus. Malala got shot her fo...

Gimana caranya masuk jadi BA / BPA / DA / DS?

Gimana caranya masuk jadi BA/B PA/DA/DS??? *) BA = Business analyst, BPA = Business process analyst, DA = Data analyst, DS =    Data scientist Ada beberapa orang nanya ke gue,  "Pekerjaan lu apa si, Ka? Lu ngapain si di situ?"      Trus gue jawab, “Gue sebagai bisnis analis” .  "Lu kan g ada background bisnis, kok bisa?"  "Gue bisnis analis yang bukan ke bisnisnya." Nah, Lho(?) bingung kan?  Jadi gini, gue jawab di sini.  Berhubung banyak orang yang mempertanyakan pekerjaan gue, dan mempertanyakan kesinambungan pekerjaan gue dengan background pendidikan gue, disini gue jelasin. Check it out. --------------------------------------------------------------------------------- Gue apply sebagai bisnis analis di suatu consultant company, dan ditempatkan di Induk company itu. Ya, semi outsource gitu, (tapi bukan pure outsource ya). Apa si outsource itu?  Outsource adalah di mana lu direkrut dan dibayar sama comp...

Surat Kecil untuk Tuhan

Gambar
Calm City, A half year of  2016 To: Tuhan Semesta Alam Dear God,  Ini sama seperti 6 tahun silam. Di mana saat itu aku berjuang tuk mengakhiri masa abu-abuku. Saat itu, ku takut kehilangan dirinya. Saat itu, entah darimana jati diri melankolis ini datang, pikiran-pikiran dia akan pergi seakan menghantui. Takut bila memang terjadi. Tidak mau bila itu jadi kenyataan. Tidak siap bila harus pergi. Tak sanggup bila secepat itu. Sakit, hancur, bila memang itulah takdirnya. Seakan belum menghasilkan apa-apa. Seakan belum membalas jasanya. Seakan tak berguna saja diri ini. Saat itu, Tuhan mengabulkan permintaanku. Saat itu, Tuhan berbaik hati menggoyangkan kelingkingnya tuk mengubah yang awalnya tak mungkin menjadi mungkin. Ya, Tuhan mungkin iba pada kerja rodiku. Tuhan mengizinkanku melukis senyum indah di bibirnya. Tuhan membuatku sedikit lebih berguna dan berharga setelah kian lama aku tak berkiprah apa-apa. Entah karena keajaiban apa, atau memang sudah cocok akan ob...