Gimana caranya masuk jadi BA / BPA / DA / DS?



Gimana caranya masuk jadi BA/BPA/DA/DS???

*) BA = Business analyst, BPA = Business process analyst, DA = Data analyst, DS =  Data scientist

Ada beberapa orang nanya ke gue, 
"Pekerjaan lu apa si, Ka? Lu ngapain si di situ?"   
Trus gue jawab, “Gue sebagai bisnis analis”
"Lu kan g ada background bisnis, kok bisa?" 
"Gue bisnis analis yang bukan ke bisnisnya."
Nah, Lho(?) bingung kan? 
Jadi gini, gue jawab di sini. 
Berhubung banyak orang yang mempertanyakan pekerjaan gue, dan mempertanyakan kesinambungan pekerjaan gue dengan background pendidikan gue, disini gue jelasin. Check it out.
---------------------------------------------------------------------------------
Gue apply sebagai bisnis analis di suatu consultant company, dan ditempatkan di Induk company itu. Ya, semi outsource gitu, (tapi bukan pure outsource ya).

Apa si outsource itu? 
Outsource adalah di mana lu direkrut dan dibayar sama company, tapi lu bekerja di company yang berbeda. Jadi missal gini, Lu direkrut sama company A, lu terdaftar sebagai karyawan company A, Penggajian di-arrange sama company A. Tapi, lu sehari-harinya bekerja di company B. Ada atasan yang berhak nilai lu di company B. Tenaga lu dibutuhkan di company B. Si company A itu sebenernya cuma bertugas sebagai perekrutan doang. Decision skill kita memenuhi kualifikasi apa tidak itu bergantung dengan company B. Jadi sebeneranya gini, Si company B memerlukan karyawan yang bisa skill A, B,C,D. Lalu mereka meminta company A untuk cari orang dengan kriteria seperti itu. Company A pasang iklan lah atas lowongan itu. Nah, jadi calon karyawan apply lewat company A, tapi ntar interview user ke company B. Diterima apa nggak itu keputusan dari company B. Kalo uda diterima, calon karyawan bakal deal-deal-an salary sama company A. Tentunya, system penggajian di sini sebenarnya dari company B. Company B ngasi ke company A, trus dari company A menggaji si karyawan. Nah, di sini nih yang gak enak kalo untuk system outsourcing. Bisa jadi gajimu dipotong banyak sama company A. Company B pasti punya standart gaji mereka untuk bayar employee dengan kualifikasi tertentu. Tapi standar gaji dari company B didapat karyawan lebih kecil atau malah jauh lebih kecil karena terpotong untuk company A. Ya ibaratnya uang jasa untuk company A dalam hal perekrutan. Company B dapat karyawan bertalenta baru. Si karyawan baru dapat pekerjaan. Dalam system penggajian ini, karyawan tidak tahu menahu soal gaji dari company B, yang dia tau cuma gaji bersih dari company A. Ya begitulah, terkadang system outsourcing ini kurang menguntungkan bagi karyawan. Harusnya lu kerja sekian jam, dengan load pekerjaan tertentu itu dengan standar gaji sekian. Tapi yang lu dapatkan lebih kecil dari itu (bisa jauh di bawah standar) karena gaji lu harus terpotong oleh pihak perantara.

Jadi guys, untuk pekerjaan sebaiknya jangan pilih yang berbau outsourcing. Cara tau outsourcing atau bukan itu darimana? Biasanya perusahaannya bergerak di bidang IT consultant. Biasanya perusahaan itu tahap rekrutmennya ada tahap interview user yang mana bukan dari pihak company itu sendiri. Oleh karena itu, untuk para job seeker, harus jeli. Saat apply, pelajari dulu profil perusahaan. Apabila ada yang kurang mengerti, kita boleh mengajukan pertanyaan tentang profil perusahaan tersebut. Misal, sah sah saja untuk bertanya ini perusahaan outsourcing atau bukan.

Oke, back to the topic about business analyst. Kenapa gue bisa ketrima jadi bisnis analis padahal background gue adalah ilmunya Einstein? Jadi ceritanya gini. Gue sembarang apply tanpa tau tuh role job nya seperti apa. Emang si, jurusan gue ada di kualifikasinya. Untuk posisi ini membutuhkan jurusan MIPA dan teknik. Nggak ada kualifikasi yang khusus untuk posisi ini. Btw ini tergantung company-nya ya. Kalo company tempat gue apply kualifikasinya seperti itu untuk posisi business analyst. Untuk company lain bisa jadi kualfikasinya pakai jurusan spesifik tertentu. 

Oke, balik lagi ke topik kenapa gue bisa ketrima. 
Interview gue standar.
Ditanya skripsi. Gue jelasin skripsi dan tesis gue yang pure ngomongin fisika. Tentang processing dan interpretasi data fisika.  Dan si interviewernya kagak ngerti gue ngomong apa. Haha.. Secara dia basicnya bukan fisika.

Ditanya kenapa pilih posisi bisnis analyst. Berhubung gue kagak tau apa-apa tentang bisnis dan sebenarnya kagak ada passion di bidang bisnis juga, jadi gue jawab ngasal yang sedikit-sedikit mirip judul bisnis analystnya, dan sedikit-sedikit sama kayak background gue. Gue jawab:
"Saya passion di bidang analytical data"

Analytical à dari kata business analyst. Gue ambil analystnya.
Data à sesuai background gue selama ini pekerjaan gue ngeliatin data-data physics yang tak berujung akhir. 
Untuk bisnisnya ngasal aja gue jawab, Saya tidak begitu tau tentang bisnis, tapi saya tertarik dan ingin tau seperti apa proses bisnis company ini (jawaban ngeles untuk orang yang gak tau apa apa). 

Dan si interviewernya nanya ke gue berarti kamu sudah terbiasa dengan pengolahan data ya. Berapa paling banyak data yang pernah kamu olah? Gue lupa jawaban gue. Intinya gue ngeles lagi. Yang jelas waktu ditanya data apa itu, Gue sebut data (istilah) fisika. Dan si interviewernya kembali kagak ngerti maksud gue. Haha.. gue pesimis si sebenernya dalam interview ini. Ngerasa pekerjaan ini sepertinya bukan untuk gue.

Pertanyaan selanjutnya, ini tentang backgroud keluarga dan tempat tinggal. Kamu asalnya dari mana? Di Jakarta tinggal di mana? Gue jawab gue tinggal di Bekasi numpang di kosan temen gue. Dilihat dari ekspresinya, ini jawaban tentang seberapa antusias kamu mengikuti test ini. Secara Bekasi mayan jauh dari Jakarta. Uda gitu bukan tempat tinggal asli. Numpang lagi. Kamu berapa bersaudara? Anak ke berapa? Gue jawab 2 dari 4 bersaudara. Kakak sudah bekerja? Adik masih sekolah? Orang tua masih ada (masih bekerja? Kalo gue tangkep ini pertanyaan untuk tau seberapa penting bagimu pekerjaan ini. Lebih tepatnya seberapa penting bagimu untuk mendapatkan pekerjaan saat ini.

Pertanyaan selanjutnya.. kamu tau ga si role job bisnis analyst itu ngapain, apa si bisnins analyst itu.
Oke, pertanyaan yang gue harus bisa jawab. Karena lu harus tau profil company, dan role pekerjaanny ngapain waktu mau apply. Itu wajib bagi job seeker sebelum di apply. Kalo lu gak tau apa-apa soal ini, interviewer akan memandang kalo lu cuma asal apply dan coba-coba. Dan itu gue. Gue gak tau ini pekerjaan sebenernya ngapain. Walopun uda gue baca di internet, tetep aja gue kagak ngerti itu ngapain. Sama kayak orang-orang yang pada nanya ke gue pekerjaanmu ngapain. Walopun gue jawab panjang lebar, tetep aja mereka gak ngerti, dan esok harinya balik nanya lagi. Jadi jawaban gue adalah gue menghafal per poin kata yang ditulis di internet tanpa mengerti itu ngapain sebenernya. Hopeless banget dah..

Oke guys, dan gue tak tau kenapa gue lolos. 
Perlahan gue analisa kenapa gue bisa lolos. Mungkin karna jawaban gue yang ngelantur jawab passion di bidang analytical data. Jadi, posisi gue tertulis awal masuk kerja adalah sebagai data scientist / data analyst, bukan bisnis analyst. Supervisi gue bingung ini pekerjaan ngapain dan dia juga bingung emang ini posisi uda mulai ada? Nah yang ngajarin gue aja bingung, apalagi gue. Gue juga kagak ngerti maksudnye bagaimana. Secara gue apply bisnis analyst, kok malah jadinya beda.

Ternyata ni company emang lagi nyari posisi data analyst atau data scientist. Mereka sedang cari orang yang bisa mengolah data dan passion dengan data processing dan insight. Lagi mau ada divisi baru tentang perdataan. Mereka lagi gencar mau go Big data. Di era milenial ini, ternyata big data, artificial intelligent lagi jadi trending topic yang bergengsi di tiap-tiap company. Dan pas banget ama jawaban gue yang ngasal, jadi diterimalah gue. Dan ditulislah posisi gue sebagai data analyst. Padahal gue juga kagak tau itu pekerjaan ngapain. Gue juga gak tau kalo lagi hits orang-orang yang suka main2 dengan data, lagi prestige kalo suatu company itu ngembangin big data. Gue sama sekali gak tau begituan. Waktu interview asal aja gue jawab, gue suka analisa data. Karna gue suka dengan logic dan angka. 

Atasan gue si ngeliat background gue dari jurusan fisika, tentunya uda sering bikin rumus. Harapannya gue bisa memberi kontribusi untuk ngasi ide tentang rumus2, atau analisa data rumus2 di divisi analytical application (aka Business intelligent (BI)). Oh berguna uga jurusan gue, pikir gue. Padahal gue juga ga yakin rumus seperti apa yang dimaksud. Baru kali ini ada orang yang berbeda pandangan tentang jurusan gue. Biasanya orang langsung memandang sebelah mata, dan bilang lu lebih pantes ngajar. Ngapain di kantoran. Ilmu lu gak kepakai di sini. Dan di sini pun tidak membutuhkan jurusan fisika. Intinya lu gak bisa belajar dan gak bisa untuk kerja di sini. Gue kesel banget kalo dibilang kayak gitu. Emang si gak kepakai. Tapi bukan berarti gue gak bisa mengerjakan pekerjaan kalian hanya karena jurusan kita berbeda. Literally, jurusan gue adalah dasar dari semua ilmu. Gue dituntut belajar semuanya. Mulai dari pemrograman, statistika, juga filsafat dan imajinasi. Dan ofcourse matematika harus jago. Belum lagi kalo udah peminatan. Lu harus belajar ilmu peminatan. Misal peminatan ilmu kebumian. Lu juga belajar pertambangan, geologi, vulkanik, seismic, etc. So complicated ampe pusying lah kalo belajar ilmunya si Bapak Einstein ini. Eh salah ding. Ini ilmunya Allah. Si Perantara ilmu ini (yang keliatan di buku2) adalah Sir Isaac Newton untuk teori klasiknya. Lalu, untuk teori modern yang membutuhkan high level imajinasi adalah si Bapak Einstein. Yang diteruskan sama Stephen Hawking dan baru baru ini meninggal. Entah penerusnya siapa.

Okey, back to the topic. Kenapa gue lolos?
Asumsi yang pertama adalah karena jawaban ngasal gue tentang passion analisa data, sama seperti yang uda gue bahas di atas.
Asumsi yang kedua adalah si interviewernya kasian ama gue. Hahahaha.. mungkin ini related sama pertanyaan tentang background tempat tinggal, asal, dan keluarga. Mungkin dia berasumsi gue tulang punggung keluarga. Ya, kebanyakan orang-orang pada berasumsi gitu si ngeliat anak-anak perantau kayak gue. Padahal anak rantau bisa aja tujuannya untuk cari pengalaman dan ngerasain kerja di big city and big company tu rasanya kayak gimana. Waktu gue masuk kantor, gue nyadar ternyata interviewer gue adalah orang yang berbeda dengan atasan gue. Decision diterima atau tidak adalah dari atasan gue. Berhubung dia super duper sibuk, dia nggak sempat nginterview gue. Dia cuma liat profile gue, dan record hasil jawaban interview. Ntah waktu itu si Bapak interviewer bilang apa ke atasan gue, sehingga gue diterima. Gue bayangin si, mungkin kalo dinterview sama atasan gue belum tentu gue diterima. Secara, orangnya strict dan perfectionist banget. Ya biasalah, head of business analyst selalu teliti abis, dan analisanya tajam. Kalo gak gitu gak bisa jadi head.

So, begitulah gaess.. gue akhirnya lolos dan bekerja sebagai seorang data analyst.

Btw, awalnya posisi gue ditulis data scientist/data analyst. Tapi endingnya gue jadi business analyst yang ditempatkan di bagian data. Yaitu business analyst yang in charge di reporting data. Nama posisinya si agak aneh, yaitu "Business analyst (include data analyst)". Tapi di tahun kedua, gue ditarik kembali jadi pure business analyst yang responsible sama application tools. (Untuk pengertian dan role job yang sebenarnya posisi business analyst dan data analyst seperti apa, akan gue bahas di artikel selanjutnya). Jadi di tahun kedua gue nerima double job, yaitu as data analyst dan business analyst. Kemudian, di tahun ketiga gue cao. Haha.. katanya si tahun ini posisi gue jadi yang bener2 seorang data analyst. Yang uda gak campur2 dan gado2 sama business analyst. Ya bodo amat dah, gue uda cabut. 

Oke guys, sekian tentang gimana prosesnya eh gimana ceritanya gue bisa ketrima kerja for the first time. See you in the Next job session part two ya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5