The Grey of July
Aku baru memejamkan mata. Samar-samar kurasakan getaran dari ponselku, pertanda pesan masuk. Kubaca pesan. Aku bangun terduduk. Tubuh yang awalnya lelah karena kurang tidur seketika bangun. "Eyang telah tiada" Aku terduduk diam melamun, menjelajahi kenangan terakhir kali bertemu beliau. Aku termangu, menatap dinding kosong. Kenangan-kenangan masa kecil tentang beliau pun tergambar. Aku melamun lama. Kubergegas mandi pagi, ambil air wudhu, dan menunaikan sholat Dhuha serta berdoa untuk mengantar kepergian beliau, sambil mengucap Yasin. Malam berganti malam. Kirim doa serta tahlil memenuhi tujuh malam selepas kepergian Eyang. Ungkapan duka masih menyelimuti rumah Eyang. Begitu pula di rumah kami, rumah saudara-saudari kami, kamar perantauan cucu-cucunya masih sayup-sayup terdengar Yasin selama tujuh hari berturut-turut. Setelah tujuh hari, kami mencoba untuk selesai berlarut dengan kesedihan, menerima kepergian dengan ikhlas. Aku pun kembali menjadi pelayan virtual yang ...