The Grey of July
Aku baru memejamkan mata. Samar-samar kurasakan getaran dari ponselku, pertanda pesan masuk. Kubaca pesan. Aku bangun terduduk. Tubuh yang awalnya lelah karena kurang tidur seketika bangun.
"Eyang telah tiada"
Aku terduduk diam melamun, menjelajahi kenangan terakhir kali bertemu beliau. Aku termangu, menatap dinding kosong. Kenangan-kenangan masa kecil tentang beliau pun tergambar. Aku melamun lama. Kubergegas mandi pagi, ambil air wudhu, dan menunaikan sholat Dhuha serta berdoa untuk mengantar kepergian beliau, sambil mengucap Yasin.
Malam berganti malam. Kirim doa serta tahlil memenuhi tujuh malam selepas kepergian Eyang. Ungkapan duka masih menyelimuti rumah Eyang. Begitu pula di rumah kami, rumah saudara-saudari kami, kamar perantauan cucu-cucunya masih sayup-sayup terdengar Yasin selama tujuh hari berturut-turut. Setelah tujuh hari, kami mencoba untuk selesai berlarut dengan kesedihan, menerima kepergian dengan ikhlas. Aku pun kembali menjadi pelayan virtual yang jobdesknya hanyalah mengikuti virtual meeting. Sama seperti pada meeting virtual kali ini. Aku terjebak dengan hal yang selalu membuatku tak bisa lari dari belenggu ini. Hingga konsentrasiku beralih ke pesan whastapp masuk.
"Aku positif"
Positif di masa sekarang adalah kata-kata yang akan dihindari. Jika dulu orang mengatakan positif, akan banjir ucapan selamat dan berkah siap menyambut kehadiran makhluk mungil, kali ini berbeda. Positif di masa yang saat ini aku jalani memiliki pengertian kau harus mengasingkan diri. Artinya adalah orang tersebut positif terinfeksi virus covid 19 dan harus mengkarantina diri.
Aku membaca pesan itu, sedikit terkejut, mencoba berpikir jernih melanjutkan pesan.
"Coba PCR. Itu antigen belum Valid"
PCR dan antigen adalah metode pengujian virus Covid 19. Test yang paing akurat adalah PCR.
Aku melanjutkan tuk konsentrasi dengan meeting virtual yang sempat teralihkan karena pesan masuk tadi. Kabar itu pun sedikit terlupa hingga sampai keesokan harinya. Hari itu adalah akhir pekan. Di mana aku tidak perlu menjerumuskan diri pada meeting virtual yang menjemukan. Aku cukup bermalas-malasan sampai tengah hari. Aku sengaja menghabiskan tidur sampai tengah hari hingga terbangun oleh pesan kakakku.
"Hasilnya positif"
Kalimat yang singkat yang cukup membuatku bangun. Hasil PCR telah keluar. Adikku yang kemarin sempat berkabar jika dia positif dengan metode antigen, hari ini sudah terkonfirmasi positif Covid dengan tes PCR. Seketika aku terbangun, beranjak mandi, lanjut sholat dan berdoa kepada Tuhan agar semua baik baik saja. Ya, terkadang kabar buruk membuat kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan.
Hari berganti hari. Malam berganti malam. Kabar buruk dan duka yang sempat terdengar pun semakin pudar dan siap untuk recovery. Jumat ini pun aku siap untuk mengawali hari dengan semangat baru. Tentunya bukan semangat untuk bekerja. Pukul 08.00 aku masih terbaring di ranjangku, membuka ponsel dan mengaktifkan layanan paket data. Semua pesan yang dikirim kemarin malam hingga tadi pagi semburat masuk memenuhi halaman pesan. Kubaca santai satu per satu, hingga pada suatu pesan dari Eyang sebelah rumah membuatku terkejut. Kesekian kalinya aku terbangun dan terduduk setelah menerima pesan.
"Doakan Om. Om sudah tidak sadarkan diri. Semoga yang terbaik," isi pesan itu sembari diselipkan video Om yang tengah berjuang dari sakratul mautnya.
Aku terdiam. Termenung dan seakan bertanya pada Tuhan. Tuhan, berita apa lagi ini. Kenapa kau tak beri kami jeda tuk berduka?
Tidak beruntungnya hari ini adalah weekday. Ak tak sempat tuk melamun, bersedih atau falshback memori terlalu lama. Aku masih harus menjerumuskan diri pada meeting virtual yang selalu menjemukan. Tentunya pikiranku sudah tak konsentrasi. Setelah meeting menjemukan itu aku beranjak untuk mandi dan ambil air Wudhu. Waktu Dhuha adalah waktu yang tepat tuk berdoa sembari membaca Yasin dan mendoakan Om tuk dipermudah dalam menjalani rasa sakitnya.
Setelah itu, aku kembali ke rutinitas menjemukanku. Walau menjemukan, ini terkadang menjadi pelarian dari kabar-kabar yang kurang baik. Bada' Ashar, aku sedikit santai. Kutinggal laptop tergelatk di meja. Aku bermain HP sambil tiduran di kasur. Sembari asyik scroll Tiktok, tiba-tiba pesan whasttap datang.
"Om meninggal"
Sekali lagi, pesan itu membuat aku tuk kembali langsung bangun dan tertegun. Ah Tuhan, ini terlalu singkat. Baru dua minggu lalu kami kehilangan Eyang, seminggu lalu Adik terkonfirmasi positif virus pandemi, sekarang kami harus ikhlas melepas Om. Ada apa gerangan dengan bulan ini?
Aku bangkit dari kasur, kuambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat Ashar. Setelah itu kubaca Yasin dan berdoa agar Om dapat pergi dengan tenang, dipermudah jalannya. Kali ini kukesampingkan pekerjaanku terlebih dahulu. Walau aku tahu banyak orang yang sedang menunggu balasan email dan chat dariku.
Kepergian Om bukanlah sesuatu yang kami duga sebelumnya. Kami cukup terkejut mendengarnya. Berbeda dengan Eyang yang sudah sakit sejak lama, Om masih cukup kuat dan tidak terlalu tua juga. Beliau selama ini tinggal berdua dengan Eyang. Saat Eyang meninggal, beliau pastinya paling sedih dan juga sembari berpikir setelah ini hidup dengan siapa dan bergantung kapada siapa. Kami sekeluarga pun sebenarnya sudah memikirkannya dan punya rencana. Ah, tapi Tuhan berkehendak lain. Belum genap dua minggu, Om menyusul Eyang. Rupanya Om benar-benar ingin menemani Eyang di sana. Memang, seumur hidupnya beliau tidak pernah pisah dari Eyang. Ah.. Juli ini sungguh penuh kejutan. Kejutan akan berita yang membuat kami tuk sedikit meluangkan waktu tuk banyak berdoa, termenung, terkejut, dan banyak membaca murotal Yasin.
Jika Indonesia di bulan Juli ini sedang gigih berjuang melawan pandemi dengan PPKM daruratnya. Keluarga kami juga sedang gigih mendoakan kepergian orang-orang terkasih selama ini. Keluaarga yang lain, atau masyarakat di luar sana pasti juga sedang berjuang. Berjuang tuk mendapat kamar rumah sakit, berjuang tuk mengantri oksigen, berjuang tuk mencari donor plasma, berjuang tuk hidup walau dengan nafas tersengal-sengal, ataupun berjuang tuk mengikhlaskan kepergian orang-orang yang tak sanggup melawan ganasnya virus pandemi ini. Di bulan ini, banyak sekali berita duka yang kudengar. Email berita duka cita berganti masuk tiap hari. Tiap hari ada saja orang pasang status sedang mencari tabung oksigen ataupun donor plasma. Tidak sedikit pula aku mendengar kabar duka dari orang-orang terdekat kerabat. Baik itu orang tua rekan kerja, Orang tua teman, Saudara sahabat, dokter keluarga, dosen, guru ataupun teman di masa kuliah/sekolah. Terlalu banyak berita duka hingga kami sampai kebal mendengarnya. Serasa merasa kabar duka berlalu begitu saja sambil membatin, "memang jamannya". Semoga sudah tersudahi sampai Juli ini. Jangan lagi ada kabar duka di bulan-bulan selanjutnya. Bulan depan adalah bulan yang mengawali kepala tiga usiaku. Semoga berwal dan berakhir sangat cerah.
Komentar
Posting Komentar