When I am in Red Zone of Pandemic 2020


Jakarta.

Jakarta terkenal dengan julukan kota yang tak pernah tidur. Jakarta yang selalu ramai walau sudah gelap.
Jakarta dengan kejenuhan macetnya. Jakarta yang membuat orang lebih tua berada di jalanan.

Akan tetapi..

Pemandangan kali ini nampak berbeda. Jalanan yang biasanya riweh dengan bunyi klakson bersaut-sautan, para penyeberang jalan yang stuck bingung untuk menyeberang, mobil yang berderet-deret antre tuk kuasai jalan, sekarang tak nampak. Para pekerja kantoran dengan baju disetrika yang sudah kusut lagi berlari-lari mengejar busway pun sekarang hanya tampak beberapa dan itu pun tak berlari-lari. Busway dan kereta yang biasa berjubel sekarang terasa lenggang. Jalanan sepi seperti layaknya lebaran. Tapi, sekarang bukanlah lebaran. Bukan holiday pula. Sekarang masih hari efektif di mana semua orang pasti sedang sibuk-sibuknya dikejar deadline atas pekerjaannya. Tapi kali ini, Jakartaku sedang istirahat. Ada yang lebih penting dari tumpukan deadline yang melulu tak pernah habis.

Jalanan Sudirman yang sepi

Ya, Jakartaku saat ini sedang terinfeksi virus pandemic. Dia sedang terisolasi tuk recovery. Entah sampai berapa lama.  Jakarta sedang menunggu vaksin yang tepat. Vaksin dari kita semua, yaitu doa dan ikhtiar mematuhi regulasi. Jakarta perlu support dari kita semua agar bisa bangkit lagi.


Jakarta? JIA YOU !!


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sebenarnya apa yang terjadi pada Jakarta?
Virus pandemic apakah itu yang bisa membuat dunia Jakarta berputar 1800?

Dunia menyebutnya Covid-19.


Source: Kemenkes.go.id

Dia telah merubah semuanya. Merubah dunia. Virus yang mewabah ini, tentunya berdampak yang sangat besar pada dunia medis. Akan tetapi, virus ini juga secara tak langsung menginveksi perekonomian dunia. Sektor pariwisata dibuat babak belur. Kota-kota dunia yang terkenal dengan pusat bisnisnya, kota yang tak pernah tidur, kini rehat tuk sementara. Kami, warga dunia dilarang keluar rumah. Jargon #StayAtHome berseru dikumandangkan para influencer dunia. Semua perkantoran siaga cepat tanggap darurat menyusun SOP work from home. Untungnya, di tengah pandemic ini, teknologi semakin maju. Kami yang di rumah aja bisa distant relationship dengan aplikasi canggih terkini. Kita yang di rumah aja masih bisa berbelanja menjelajah semua toko dengan fasilitas online.

Dalam setiap kesulitan selalu ada hikmah di dalamnya.
Para pebisnis yang sibuk berkarir kini memiliki waktu yang lama tuk berkumpul dengan keluarga. Yang merasa awkward menjadi lebih friendly dengan keluarga. Rumah menjadi ramai. Perkantoran konvensional sudah dipaksa melek teknologi. Bekerja bisa di mana saja dan tak harus tatap muka. Efisien? Jika diwajibkan dan dikejar deadline mau tidak mau pasti efisien. Kebijakan serta SOP work from home pun harus sudah jadi. Hikmahnya adalah SOP dan uji coba ini bisa diterapkan walau tidak ada pandemic. Para tetua kolot bisa diyakinkan bahwa zaman sekarang pekerjaan bisa lebih fleksibel. Orang-orang yang gagap teknologi sekarang dipaksa tuk gaul dengan aplikasi terkini yang memudahkan komunikasi. Sulitkah? Ah, tidak ada kata sulit jika memang kebutuhan.
Bagaimana nasib perantau anak kos seperti aku? 24 jam harus menatap dinding-dinding kosong kamar. Sepi dan bosan memang. Tapi, saving money yang kerasa banget. Dan ternyata ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi kebosanan. Sadar bahwa banyak kegiatan yang lebih bermanfaat dilakukan daripada cuma nongkrong haha-hihi ngrobrol nggak jelas. Ngabisin uang hanya untuk segigit kue dan setenggak kopi karna ingin membeli kursi untuk duduk santai berlama2 mengobrol. Kegiatan upgrading yourself, membaca buku yang sudah lama mengendon di laci, susun planning harian, skincare routine, olahraga routine, ada banyak hal yang lebih produktif.

So, teruntuk kamu yang mengeluh dengan di rumah aja, sabar dulu. Lakukan kegiatan yang berfaedah dan nikmatilah momen ini untuk berkumpul bersama keluarga.


28 March 2020.
Semoga badai ini segera teratasi. Semoga semua orang sehat. Semoga negeri ini terselamatkan.
Dari warga Negara tanah air beta yang ingin negaranya selangkah lebih maju.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Di rumah aja.

Momen di rumah aja tentunya terasa asyik bagi yang berkumpul bersama keluarga. Tak perlu bekerja ke kantor, cukup bekerja di rumah secara fleksibel. Tapi lain halnya anak rantau seperti gue. Momen keluar atau momen di jalan adalah momen yang lebih hidup. 24 jam di kamar, menatap dinding kosong, tanpa ada manusia yang bisa diajak cerita tentunya sangat menjemukan. Banyak orang bertanya, bagaimana kondisi Jakarta saat ini? Gue  jujur malah tidak tau. Katanya si, jalanan sepi, mall sepi, banyak yang ditutup. Gue sendiri hanya keluar kos sesekali itupun untuk ke indomaret atau warteg sebelah yang jaraknya tidak lebih dari 1 km. Bohong jika bilang masih happy. Sedih pastinya menjalani hari hari yang tidak biasa ini dengan seorang diri.
Gimana perasaannya ada di tengah Red Zone begini?

Sedih?  Iya.
Resah?  Pasti.
Bosen?  Banget.

Sudah pasti resah. Di sini ada orang batuk-batuk saja, kita sudah aware dan mencoba menjaga jarak sambil ngomel tanpa suara kenapa tuh orang nggak pake masker. Tiap hari terima kabar entah dari chat, berita, atau bisikan2 tetangga, yang isinya adalah hal yang basicly sama. Misal, tetangga gue udah ada yang kena, radius 1 km dari rumah. Ojol di kelurahan sebelah positif dan kabur gak mau dirawat karna punya anak dua gak ada yang njaga, yang akhirnya setelah diberi pengarahan mau untuk dirawat. Temen adikku ada yang meninggal sendirian di kos setelah demam. Ada dokter lagi meninggal di RS A. Gedung kantor sebelah yang masih satu komplek dengan kantor kita ada yang suspect, sehingga satu grup kantor harus lockdown. Si B dia lagi pneumonia, mau periksa tapi RS penuh. Gue sesak udah seminggu, tapi takut mau ke RS coz nanti malah dikumpulin sama pasien yang corona, padahal gue belum tentu positif. Berita-berita tiap hari update jumlah korban selalu bertambah tiap kelurahan, yang meninggal jauh lebih banyak dari yang sembuh, dan masih banyak lagi cerita-cerita negatif yang terdengar. 

Well, begitulah kabar-kabar negatif  yang gue denger selama karantina day.
Cemas pastinya. Tapi mau bagaimana lagi. Tak ada yang bisa dilakukan. Ngeliat berita yang jumlah korbannya makin naik, cuma bisa survive dan gak tau sampai kapan bisa survive kayak gini. Yang honestly sebenernya ini bukan survive, tapi seperti menunggu giliran untuk tertular. Melihat perkembangan sejauh ini, sepertinya memang kota ini dibiarkan mewabah. Warganya tak boleh keluar. Warga luar kota pun tak mengijinkan untuk masuk.

 Jujur, memang sempat terpikir. Gimana jika beneran ikutan tertular. Gue disini sendiri. RS pun juga ga jelas, pastinya nyuruh orang untuk self isolated jika nggak parah. Secara logika, orang yang sudah parah nggak akan kuat untuk kemana-kemana. Al hasil, tak sedikit yang mati di dalam kamar kos ketika dia tinggal sendiri. Karna memang gak ada yang tau sakit uda sampai mana. Itu pikiran ternegatif gue yang sempat terpikir karna terlalu sering baca, denger berita-berita di social media. Dan pikiran yang lebih nyesek adalah ketika harus menjalani penyakit yang harus diisolasi, tanpa ada keluarga yang menjenguk sampai mati tak ada pemakaman didampingi keluarga. Apalagi untuk orang rantau, sudah lama nggak ketemu keluarga, yang ada cuma kabar kematian yang mana jasadnya pun tidak boleh dikembalikan ke keluarga. Mungkin ini kondisi seperti gugur di medan perang.

Yap, tapi itu cuma pikiran ternegatif gue yg sempat terpikirkan setelah membaca berita yang tak ada kabar baiknya. Detik ini, jiwa dan raga gue masih sehat. Masih bisa menuangkan alam kehaluan gue menjadi sebuah tulisan. Mohon maaf gue terlalu halu, karna habis baca chat temen yang mana temennya ditemukan meninggal di kamar kos setelah demam. Temennya masih seumuran gue, dan tak ada riwayat penyakit bawaan. Melihat kondisi saat ini, penyakit ini sungguh benar adanya. Bukan cuma di film-film. Dan bisa parah bahkan meninggal jika tak ada penanganan baik. 

Oleh karena itu, teruntuk kamu yang masih sehat dan berada di Green Zone, bersyukurlah. Sehat itu adalah anugerah yang sangat mahal.

Lalu teruntuk kamu yang ada di Red Zone, udah jangan kegatelan. Cukup di rumah aja. Mari bantu doa, semoga wabah ini segera berakhir. Pikirkan hal-hal menyenangkan yang bakal kamu lakukan ketika wabah ini selesai dan negara kembali seperti semula. 

Stay safe and healthy, guys…



*) Red Zone adalah zona merah di mana zona yang sudah ada orang positif covid-19 dan dianggap berbahaya
*) Green Zone adalah zona hijau di mana daerah tersebut belum ditemukan orang terkonfimasi positif covid-19





Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

Aplikasi Solar Sel