Waktu yang Tepat
“PPKM Darurat resmi diadakan mulai hari ini hingga 2 minggu ke depan”, ucap Presiden di istana kepresidenan. Semua kamera dengan mode flash on menuju ke arahnya.
Seketika semua berita di media sosial meliput hal yang sama.
PPKM darurat menjadi cuitan paling trending, topik yang paling hangat di semua konten media sosial. Aku melihat berita dengan tatapan malas, no response dan tentunya
berpikir sama seperti masyarakat luas pikirkan. Ah, paling juga sama saja. Di semua
aturan yang tertulis selalu ada pengecualian-pengecualian untuk pihak-pihak tertentu.
Kututup layar kaca yang menyiarkan berita terkini pagi ini dan melanjutkan kembali
merebahkan diri untuk tidur.
Aku sebenarnya
sudah tidak peduli. Sudah berkurang rasa takutku. Jujur aku termasuk orang yang
diuntungkan pada saat pandemi. Namun kabar pagi ini (tentunya bukan kabar darurat negara yang aku
lihat di berita tadi), mendorongku untuk tidak egois terhadap kondisi sekitar. Untuk pertama kalinya aku memohon dengan tulus berdoa
agar pandemi yang luar biasa berdampak ini untuk segera berakhir. Izinkan orang-orang
beraktivitas seperti dulu dengan normal. Hilangkan pembatasan-pembatasan
abnormal yang melarang kita untuk berhubungan dengan sesama. Izinkan kami semua
untuk bisa bepergian dengan bebas, memeluk satu persatu keluarga dan mempererat
silaturahmi.
Setelah
mendengar kabar pagi tadi, pikiranku melamun jauh ke tempat desa, di mana Mamak dilahirkan. Aku sedang membayangkan bagaimana perasaan Yangti yang tinggal sendiri di desa itu. Dua tahun terakhir lebaran tanpa ada anak dan cucu-cucunya. Sudah
menjadi tradisi bagi kami untuk berkumpul bersama melepas rindu di momen lebaran.
Sudah tradisi pula bagi kami, anak cucu untuk merantau di kota seberang guna mengejar
cita-cita ataupun untuk mencari masa depan yang lebih baik. Momen lebaran lah
yang selau ditunggu untuk kembali berkumpul bersama, terlebih bagi Yangti yang
telah ditinggal anak cucunya untuk merantau di kota besar. Pandemi yang cukup
gila ini menghilangkan momen itu. Kami hanya bertukar kabar melalui panggilan
video. Tentunya generasi seperti Yangti akan kagok ataupun tak terbiasa dengan
hal itu. Aku bisa merasakan sepinya sepanjang hari-hari Yangti berharap anak cucunya
untuk pulang. Tanpa memikirkan ego sendiri, beliau hanya bisa berharap bertemu
dengan anak cucunya pada momen spesial yaitu lebaran. Saat ini harapan itu juga
pupus. Tak jelas kapan harus berkumpul lagi untuk bersama. Penantian untuk
berkumpul bersama tak kunjung mendapat hilal. Bahkan di saat-saat terakhirnya,
beliau masih mengharap anak-anaknya untuk pulang. Lagi-lagi pandemi gila ini memupuskan
harapan. Di saat-saat terakhirnya adalah di kala virus pandemi sedang
mengganas dan berada pada puncak jumlah
korban. Alhasil, mobilitas warga +62 sangat teramat dibatasi. Pandemi ini
benar-benar meruntuhkan harapan seorang nenek untuk bertemu dengan anaknya.
Yangti sudah lelah untuk menanti. Beliau memilih untuk menyusul suami tercinta,
Yangkung. Mungkin, jika kami bisa bertemu di saat terakhirnya, beliau akan
mengucap kata perpisahan:
“Anak-anakku, aku titipkan rumah kita untuk dijaga bersama.
Maaf, aku tidak bisa menunggu terlalu lama untuk bertemu dengan kalian. Tapi, tenang saja. Aku sudah cukup berbahagia akan
bertemu dengan Ayahanda, Kakek kalian. Semoga kalian baik-baik saja di sana,
melawan pandemi ini”
***********
Rrrrr… Layar ponselku berkedip, tanda sebuah notifikasi
pesan diterima. Getarannya cukup lirih namun cukup membuatku tuk membuka mata
lagi di seperempat tidur ayamku. Matahari memang sudah berhasta-hasta naik
sejak tadi. Namun, aku baru merebahkan diri karena terjaga sejak dini hari
untuk menyelesaikan my fu*ing kerjaan yang bejibun. Dengan mata berat kubuka pesan
yang muncul di layar ponsel. Kulihat sendernya , Whastap keluarga. Sebagai anak rantau, pesan dari grup keluarga masuk
dalam kategori fast response untuk dilihat, dibaca, dan dibalas. Sambil setengah
sadar, aku membuka pesan yang rupanya kakakku si pengirim pesannya.
“Yangti sedi”
Aku tertegun. Kakakku kembali
mengirim pesan, merevisi pesan sebelumnya.
“Sedo”, koreksi tulisan di awal
Sedo adalah Bahasa Jawa halus yang artinya
meninggal dan diperuntukkan untuk orang yang lebih tua.
Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya
masih setengah watt. Kuulangi lagi membaca pesan. Rupanya berita itu benar, aku
tidak salah baca ataupun sedang bermimpi. Dilihat dari pesan kakakku yang
sangat singkat dan sempat typo, aku yakin dia juga terkejut, panik,
sedih tapi berusaha untuk menyampaikan berita duka ini ke adik-adiknya secepat
mungkin. Aku terbangun dan kubaca pesan sekali lagi untuk memastikan aku tidak
sedang bermimpi. Kupencet tombol keyboard seakan mau me-reply pesan.
Bingung.
Bingung mau balas apa. Aku yakin, untuk
semua orang pasti pernah merasakan bingung membalas pesan ketika mereka
mendapat kabar duka dari orang-orang terdekat. Respon awalnya bisa jadi
speechless, tak mampu berkata-kata, atau sekedar takut salah ucap sehingga malah
lebih melukai perasaan yang berakibat memperburuk keadaan.
“Innalillahiwainnailahirojin”,
kubalas dengan kalimat umum simpati atau sebutan doa yang digunakan orang-orang ketika menerima kabar duka. Aku mengetik dua-tiga huruf sisanya dilengkapi oleh
fitur autofill yang ada pada ponsel yang ternyata itu malah typo. Sadar typo,
tapi tak kurevisi. Ada yang lebih penting untuk ditanyakan.
“Mamak gimana? Apa mau ke desa?”
Kami sekeluarga berada di kota yang
berbeda dengan Yangti. Yangti tinggal di kabupaten kecil, sedangkan kami
tinggal di kota yang masuk kategori besar di provinsi kami. Dari rumah kami
memakan waktu 5 jam untuk sampai di kampung halaman, tempat Yangti berada.
Kondisi Yangti memang sudah
memburuk sejak dua minggu terakhir. Mamak dan Bapak memang ada rencana untuk
menjenguk Yangti. Tetapi rencana itu kerap diundur karena aturan-aturan pembatasan
pandemi ini.
Negara kami saat ini tengah
berjuang melawan pandemic. Ah tidak. Bukan hanya negara kami, seluruh dunia
sedang berjuang untuk melawan virus kasatmata ini. Aturan-aturan mobilitas atas
Virus Covid-19 ini membuat kami sekeluarga tak bisa berkumpul. Covid-19 membuat
Mamak dan Bapak tertinggal timing untuk bertemu Yangti terakhir kalinya. Larangan
mobilitas super ketat ini juga mengharuskan Bulik untuk tetap tinggal di
ibukota meski hati resah karena ibundanya terbaring lemah dan sudah tak kuat
untuk bangun. Pandemi yang cukup gila ini membuat kita memutus tali silaturahmi
secara nyata, bukan layanan silaturahmi virtual.
2 jam kemudian, HP ku bergetar
lagi. Pesan dari kakakku.
“Mamak sudah berangkat dari tadi
jam 10”
Lantas aku membalas, “jadi naik
apa? Travel kah?”
“Sewa mobil. Nemu rental tadi”
“Berapa harganya?”
Nominal harga adalah hal yang
selalu aku tanyakan dan menjadi salah satu concern. Untuk anak rantau seperti
aku, yang bisa dilakukan hanyalah menyumbang materi selain doa. Aku tak bisa berada
di rumah dalam waktu sekejab. Tentunya setidaknya materilah yang bisa aku
bantu. Pastinya semua anak rantau yang sedang mencari nafkah di kota orang pun
juga akan berpikir samadenganku. Apalagi di masa pandemic seperti ini. Sulit
untuk berpindah kota dalam waktu yang singkat dan dadakan. Perlu perijinan khusus
serta tes kesehatan yang cukup payah untuk lolos pemeriksaan dan diizinkan bepergian.
Ahh.. sudahlah.. aku sudah lelah untuk mengutuk pandemi gila ini.
Setelah mendengar
berita duka dari Yangti, aku duduk terdiam, melamun dari 2 jam lalu. Seketika kenangan-kenangan
beliau bermunculan dan membuatku termenung dan sedih. Tidak kurang dari 1 bulan
lalu, kami sekeluarga memutuskan untuk mudik ke rumah Yangti. Hampir 2 tahun kami
tidak pulang. Larangan mudik selalu dipasang pemerintah saat lebaran. Bulan lalu,
tepatnya seminggu setelah lebaran kami sempatkan, nekatkan, dan putuskan untuk pulang
ke desa tempat Yangti berada. Kami berpikir jika menunggu pandemi tak akan
kunjung selesai. Mengingat kondisi Yangti yang juga semakin buruk. Walaupun ada
larangan mudik, kami tetap mudik di luar tanggal penyekatan. Segala puji bagi
Allah, kami masih berkesempatan melihat Yangti untuk terakhir kalinya. Yangti
masih bisa mengobrol dan berjalan walaupun menggunakan alat bantu. Sebenarnya kepulangan
kami sempat akan tertunda. Tumpukan kerjaanku yang tak bisa ditinggal untuk
cuti mengharuskan untuk tetap kerja. Selain itu, kondisi Mamak dan Bapak yang kurang
begitu fit menjadi alasan Utama bagi kami untuk menunda kepulangan. Akan tetapi,
ntah mengapa dan apa yang mendorong kami tiba-tiba jadi berangkat dengan persiapan
yang sangat singkat. Aku packing dalam waktu 30 menit dan langsung berangkat. Itu
adalah persiapan paling singkat untuk mudik sepanjang umurku.
Rupanya keputusan untuk pulang saat
itu adalah tepat. Kami mengambil timing yang tepat. Itu adalah kali terkahir
aku bertemu dengan Yangti. Seandainya aku tau itu adalah momen terakhir, aku
akan tinggal lebih lama. Kami tidak akan pergi kemana-mana memilih untuk menemani
Yangti bertukar cerita di rumah. Seandainya kami tau itu adalah momen terakhir,
kami juga sempatkan tuk foto Bersama. Ah, tapi apalah arti sebuah foto jika
nantinya hanya untuk diupdate di social media dan juga nantinya akan terhapus karena
memori full di ponsel. Kenangan yang lebih berharga adalah kenangan yang
terekam jelas di memori otak. Sama seperti yang terjadi padaku. Aku masih ingat
betul kenangan terakhirku bersama Yangti. Momen itu adalah ketika Yangti
meminta tolong untuk diantar ke kamar mandi. Saat itu aku melintas di dapur untuk mnuju
kamar mandi untuk mandi sore. Begitu aku sampai di dapur, aku mengetahui Yangti
tengah kebingungan karena air kobokan cuci tangan tumpah di dapur dan sontak
membuat anak keduanya panik dan marah. Seketika itu aku refleks untuk menengahi
dengan membawa air dari kamar mandi beserta wadahnya untuk cuci tangan, sambil berkata
“Nggak papa Yang, nggak terlalu basah kok. Nanti juga kering sendiri”, untuk
mencairkan suasana. Kemudian Yangti meminta untuk diantar ke kamar mandi menuruti
instruksi anak keduanya untuk membasuh tangan dan kaki. Aku pun membantunya
berjalan menuju kamar mandi. Beliau berjalan dengan tongkatnya sambil tertatih-tatih
dan memegang tanganku untuk acuan jalan. Sambil tertatih beliau tersenyum dan berbisik
menggerutu menggunjing anak keduanya. Aku menanggapi dengan tersenyum, mengiyakan
dan paham situasi. Sungguh iba melihat kondisinya saat ini. Beliau sudah tidak
bisa melakukan semua sendiri. Memoriku flashback ketika dulu aku masih kecil. Yangti
masih sehat dan sangat ceria. Beliau sering mengajak jalan-jalan ke pasar
dengan menyombongkan staminanya yang masih kuat di usia yang sudah tidak muda
lagi. Tentunya diselingi dengan omelan-omelan khas Madura Jawa miliknya sambil
terkekeh. Waktu berjalan sangat cepat. Membandingkan kondisinya yang dulu dan
saat ini, seakan sebagai pengingat bahwa sejaya dan sekuat apapun seseorang,
pada akhirnya tidak bisa dipungkiri bahwa manusia akan membutuhkan manusia lain
untuk bertahan hidup, terlebih lagi di usianya yang sudah renta.
Setelah dari kamar mandi, aku antar
Yangti untuk tiduran di tempat tidurnya. Kunyalakan televisi dan kugelarkan
selimut untuk membuatnya lebih nyaman. Kemudian setengah jam kemudian beliau
tertidur.
Hanya itu kenanganku bersama Yangti
saat kami pulang terakhir. Jika aku tahu itu adalah momen terakhir, mungkin
akan kusengaja berlama-lama duduk di dapur untuk mendengarkan cerita-cerita
kejayaan nostalgia di masa lalunya. Sambil diselingi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
dasar yang wajib tiap tahun. Sepertin kelas berapa, semester berapa, kerja di
mana, kapan pulang ke rumah dsb. Seandainya aku tahu itu adalah momen terakhir,
bisa kupinggirkan dulu pekerjaan-pekerjaan sialan yang cukup menyita waktu ini
dan memilih tuk bercengkerama dengannya.
Yaa.. walaupun aku hanya mendapat
momen singkat, tapi setidaknya aku sempat melihat beliau untuk terakhir
kalinya. Kesempatan yang penuh dengan timing yang tepat. Apakah yang paling
berharga di dunia? Jawabnya adalah waktu. Kita tidak bisa memutar kembali waktu
yang ada. Harta, tahta, ataupun yang lain bisa kita cari lagi. Tetapi waktu
yang tepat hanya datang sekali.
Yangti, selamat jalan.
Selamat beristirahat dengan tenang
Semoga bertemu dengan suami tercinta, Yangkung di surgaNya. Amin
Komentar
Posting Komentar