part 2

Seiring berjalannya waktu, si anak sudah menyelesaikan proyeknya. Deadline pengumpulan sudah semakin dekat. Tapi orang tersebut tidak segera memberikan kontribusi kerjasamanya. Di sisi lain, butuh persetujuan dari orang itu agar proyek ini selesai. Tidak ada yang bisa dilakukan anak itu selain berharap. Dengan sabar dia menemui orang itu dan menanyakan kelanjutan proyeknya. Dengan sabar pula dia mendengar sebuah jawaban yang sangat tidak pasti. Dengan sabar dia menanti, berharap penuh agar selesai tepat waktunya. Dalam hati, dia cemas tak karuan dan mulai berfilosofi, imajinasi, halusinasi. Lagi2 otak kanan kirinya bekerja. Otak kiri mencari alasan logis jika proyeknya tidak selesai tepat waktu. Otak kanan berimajinasi membayangkan setting tempat dan waktu untuk menjelaskan alasan proyeknya tidak selesai tepat waktu serta dampak yg timbul. Terlalu banyak berandai2 membuat hati risau dan otak pusing. Akhirnya si anak mencoba alternatif lain. Kenapa sibuk memikirkan alasan proyek yang tak kunjung selesai. Kenapa tidak memikirkan bagaimana proyek ini selesai tepat waktunya. Dan bagaimana proyek ini selesai kuncinya hanya pada orang itu. Maka, lusa anak itu akan mencoba mencari kepastian pada orang itu terkait proyek ini. Si anak tau betul tidak mudah bersilat lidah dengan orang itu. Karakter keras kepala dari orang itu tidak mudah untuk diajak berkompromi. anak didiknya saja tidak bisa menaklukan orang itu, bagaimana anak yang masih bau kencur seperti ini? Tapi si anak sudah putus harapan, dia rela jika terkena imbas kemarahan dan keegoisan orang itu. Dia teringat kata-kata teman kelasnya tadi siang, setidaknya dicoba. Ya, benar. Si anak berpikir, tidak ada salahnya untuk dicoba. Walaupun imbasnya akan bertambah buruk tapi keburukan itu tidak murni 100 persen. Peluang satu persen pun bisa jadi nyata. Ya, lusa anak itu akan menentukan nasibnya. Dan semoga berakhir dengan indah. Amin.  

                                                                                                                                                                   


Si anak terus menyusun kalimat demi kalimat, mencari celah dari hati orang itu yang keras. Celah itu pasti ada. Sekeras apapun batu, pasti ada rekahannya. Sang anak berkonsultasi dengan biyung, uni, kawan guna menyusun kalimat yang tepat tuk menangani kepala batu otak udang ini. Jadwal demi jadwal dipelototinya. Dia mencari timing yang tepat tuk pertaruhan negosiasi ini. Pada saat apa hati orang itu blossom. Pada saat mana kepala orang itu sejuk, dingin seperti tetesan embun. Sang anak terus menimbang timing yang tepat. Sang anak percaya pasti ada jalan. Namun, diam-diam di sudut hatinya yang paling dalam ada keraguan yang besar. Bagaimana jika tidak brhasil? Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya tidak ada yang bisa menaklukan naga tidur ini. Apakah tindakannya malah akan membangunkannya dari tidur yang panjang? Setelah itu lalu apa yang akan terjadi pada nasibnya? Dia akan berakhir karna dimangsa olehnya. Astaga pilihan ini sungguh pilihan yang sulit dan penuh resiko. tapi kata-kata temannya tadi pagi terpampang besar-besar tepat 5 cm di depan matanya. Tepat di bawah dahi, menggantung, seperti baliho iklan jalanan bertuliskan : ”SETIDAKNYA KAMU SUDAH MENCOBA!”. Kata-kata inilah yang menjadi spirit dirinya untuk terus maju, tidak peduli kealotan hati orang itu dan dampak yang ditimbulkan. Ya, setidaknya harus dicoba. Tidak ada salahnya berterus terang!, anak itu memantapkan diri lamat-lamat..


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5