part 4
Si anak tidak bertemu dengan orang itu. Empat hari terlewatkan sudah. Kau tidak akan pernah mengerti betapa pentingnya waktu satu detik bagi Sang anak. Dan kini empat hari itu terbuang sudah sia-sia. Apakah ini ujian kesabaran? Apakah ini ujian keikhlasan? Si anak terus bertanya-tanya dalam hati. Yang lebih menyakitkan tidak ada yang memahami kemelut hati si anak. Semua sibuk dengan aktivitas duniawi masing-masing. Terlebih lagi orang itu, mana mau tahu kegundahan hati Si anak yang seharusnya harus melaju gerak cepat bagai rusa namun harus terhalang karena ada naga yang berdiri penuh kuasa di hadapannya. Ah, lagi-lagi Si anak harus berjuang sendiri dalam ritme kehidupannya. Dia slalu menunggu seseorang yang mampu menemani dan memahami suara batin dan sinkronisasi pikirannya.
Besok adalah waktunya, pikir si anak. Namun, tetap saja Si anak selalu bimbang dan mati kutu bila bertemu orang itu. Dalam hati, Si anak bergumam resah,
Besok,,,Eotdokke???Besok...Sudah selesai kah??Besok...Pantaskah..?Besok...Tidak menimbulkan masalah kah?Besok...Bolehkah??Besok...Haruskah menunggu lagi??Oh, no.. I cant wait anymore again..Waiting is make me frustrated.Jebal... jebal... stop this game.Just klick end and pass itIt is too hard.. I cant..!!!
Namun, si anak tau betul besok bukanlah waktu yang tepat. Yang ada Si anak malah kena damprat dari orang itu. Tapi tidak ada waktu lagi, pikir Si anak. Rusa ini sudah tak tahan lagi ingin berlari kencang tak peduli ada naga berdiri kekar di hadapannya.
Ya, besoklah waktunya.
And.... the result is..:
Salah. Salah. Salah. Ah, rupanya itu waktu yang salah, lagi-lagi si anak menggumam seperti itu. Menyesali tindakannya tadi. Tidak seharusnya ia mengatakan seperti itu. Dan tidak seharusnya ia menanyakan secepat itu. Ah, dasar, tidak pikir panjang. Lalu apa yang bisa diperbuatnya sekarang? Ah, sungguh bodoh. Bahkan menampakkan batang hidung pun sekarang Sang anak tak berani. Lalu bagaimana bisa selesai kalau begini caranya?
Permasalahan itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi. Maka, besok, dengan mental sekuat baja, tekad sebulat lingkaran penuh, wajah setebal beton, Sang anak akan menghadapi orang itu. Tak masalah walau kena semprot lagi, kena marah, its okay. Setidaknya ada kejelasan. Walaupun banyak juga yang tak jelas akhirnya. Tapi setidaknya sudah mencoba.
Maka, malam ini, aku mengucap beribu doa, meminta belas kasihan dan pertolongan Tuhan. Ya Allah, lindungilah anak itu, bimbinglah dia, hamba memohon ridhoMu atas keselamatannya dan kesuksesannya. Ya Allah, semoga ini hari terakhir.
Bulir2 doa ini terangkai menggulung dan terbang di angkasa, membentuk untaian garis rasi bintang, menggoreskan kata:
"iya."
Komentar
Posting Komentar