Berdamailah.. (epilog)

Ada penelitian soal apa yang membuat manusia menjadi manusia super. Itu  adalah:
"Manusia itu sendiri. "
Tidak ada alat atau obat yang bisa melampaui emosi manusia. Ukuran bagi antibodi manusia adalah ingatan. Itu adalah antibodi yang kuat.
Maka jangan sekali-kali mengatakan "lumpuhkanlah ingatanku". Jangan sekali-kali mengatakan "lupakanlah semua". Biarkan memori baik atau buruk itu untuk dikenang. Suatu saat kita akan tahu ada manfaat tuk punya memori-memori tersebut. Jadi terimalah semua memori itu. Sesungguhnya lebih lega bila kita menerima memori-memori itu daripada mencoba untuk melupakannya, untuk memori yang menyakitkan sekalipun. Kuncinya ikhlas. Terimalah. Jangan dilupa. Terimalah. Jangan dipikir. Sesungguhnya itu hanya sekelumit dari memori kita. Masih banyak memori yang indah yang akan menunggu. Maka akan sangat tidak penting bila kita terus terbayang akan memori itu dan dengan sangat tersiksa mencoba tuk melupakannya. Yang kita lakukan hanya cukup menerima dan membiarkan perlahan hilang tanpa sadar.

-Melupakan-
Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yang membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenyataan tersebut.
Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala.
Bagaimana mengatasinya?
Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenyataan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: "Saya punya kenyataan seperti ini, saya terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena saya tahu, besok lusa saya bisa jadi lebih baik dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri." Letakkan kenyataan tsb dalam posisi terbaiknya.

Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu.
Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, hanyut dibawa oleh hal2 baru yg lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tidak semaput oleh racun tsb, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.

Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan berdamai dng kenyataan. Seperti pada Si anak yang mati-matian berusaha melupakan kenangan pahit itu, orang itu, orang ini. Jawaban ampunhya adalah dengan berdamai. Berdamai pada kenangan-kenangan itu,dan menyadari bahwa memori ini hanyalah sekelumit dari kisah hidupnya. Selain itu, Si anak percaya bahwa esok, lusa, atau nanti, akan ada kejadian-kejadian manis yang siap membentuk suatu rangkaian kenangan indah menggantikan kenangan-kenangan pahit ini. Kenganan-kenangan pahit ini akan biasa saja dan terkadang lucu untuk dikenang.
 Terima, ikhlas, dan berdamailah pada sesuatu yang menyakitkan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5