Jumat Mubarok
Di sudut ruangan ini, seringkali aku berada di sini. Menatap layar penuh kônsentrasi, atau hanya melihat jenuh isi hiburan yang ada. Sesekalipun tersenyum kangen melihat kenangan masalalu di layar itu. Ataupun terkadang jenuh, melihat ke kejauhan panorama gedung tinggi yang terbasuh hujan melalui bingkai kaca di sisi kiri ruangan ini. Ruangan ini pun seringkali jadi tempat berkumpul empat sahabat di akhir studinya. Tempat bersendagurau, diskusi, bernyanyi, ataupun berbincang terkait risalah hati. Tak jarang ruangan ini menjadi tongkrongan jenuh tuk menunggu hujan reda.
Ada satu yang berbeda pada ruangan ini saat ini. Saat puncak jenuh akan tuntutan masa depan yang harus terselesaikan. Lantunan-lantunan indah dari wanita separuh baya itu menjernihkan pikiran yang kian keruh ini. Kehampaan akan kesunyian dan kesepian karna tertinggal oleh kepergian sahabat-sahabat tercinta. Suntikan energi kedamaian ini membuat tangan-tanganku bergerak lincah menyentuh keyboard mini elektronik canggih milikku. Pikiranku terbuka dengan ide-ide tersalur indah pada jari-jemariku. Tenang, damai, khusyu' mendengar siraman diskusi ayat favoritku ini. Ah, andai suasana selalu seperti ini. Pasti otak keruh ini tak buntu mencari-cari ide. Pasti hati hampa dan sepi ini tak selalu rindu akan sahabat-sahabat yang telah pergi. Hari ini sungguh hari yang penuh syukur. Hari besar agamaku dalam satu minggu kali ini begitu damai dan tenang.
Fabiayyiala i robbikuma tukadziban..
Maka nikmatKu mana lagi yg kamu dustakan
Maka nikmatKu mana lagi yg kamu dustakan
Ayat
favorit itu terucap indah dari bibir ibu-ibu separuh baya itu. Kupasan ringan
tentang ayat itu begitu damai. Di tengah gedung tinggi yang penuh polemik
teknologi canggih, masih ada sekumpulan orang-orang yang mengkaji indahnya ayat ini.
Walaupun dengan harakat dan artikulasi yang masih pemula, tapi kegigihan dan
semangat ibu separuh baya ini patut diberi jempol dua. Walau tak merdu tetap
indah, dan terenyuh. Di tengah kesibukan akan tuntutan duniawi, ibu
separuh baya ini rela meluangkan waktunya tuk mengkaji lantunan indah dari
kitab suci agamanya. Walau tak lancar dan seringkali salah harakat, di usianya yang sekarang tak
malu tuk tetap melanjutkan demi bisa melantunkan lancar ayat-ayat kitab
sucinya ini. Sungguh benar-benar takzim akan usahanya.

Komentar
Posting Komentar