February

Hasil gambar untuk february


Februari selalu menjadi awal semangat baru dan  awal kisah bagi pelajar tingkat lanjut yang sedang mengejar masa depannya di kampusnya Bathara Wijaya. Mereka dengan semangat baru berbondong-bondong kembali dari kampung halaman tuk mengadu nasib lagi di kota. Ataupun mereka sedang pusing  mempersiapkan setumpuk uang tuk barter ilmu di kampus biru. Biaya ilmu yang tak murah cukup membuat mereka terbayang-bayang akan bulan Februari tuk pinjam sana sini memenuhi kebutuhan ilmu yang cukup mahal ini. Ah, tapi inilah pengorbanan. Rasa haus ilmu ini harus dibayar dengan setumpuk rupiah yang entah darimana asalnya, asalkan halal.

Berbeda dengan pelajar tingkat lanjut yang semangat tuk mengawali karirnya di bulan Februari, pelajar tingkat akhir malah takut akan datangnya bulan Februari ini. Bulan Februari seakan menjadi target wajib tuk mengakhiri semuanya. Bulan Februari harus menjadi akhir yang bahagia. Bulan Februari tak boleh lagi sama seperti tahun-tahun lalu. Itulah kata-kata yang harus mereka pegang, gantung tepat 5 cm di atas kening mereka sebagai pelecut semangat tuk berjubah hitam dengan topi kebanggaan.

Pada sudut pandang yang berbeda, bulan Februari seakan menjadi momen istimewa bagi dua sejoli yang sedang memadu kasih di belahan dunia lain. Namun, pesatnya tingkat teknologi dan terjebak dalam imbas era globalisasi menjadikan momen istimewa itu tak hanya lagi dinikmati oleh belahan dunia lain. Momen istimewa ini juga dirayakan oleh negara yang mayoritas umatnya adalah umat Muhammad, SAW. Entah ini masih berlaku bagi belahan dunia lain atau sudah tersebar di semua bagian dunia, ada satu momen pada Februari yang tak boleh dilupakan. Pada momen tersebut, di belahan dunia lain (entah sudah tersebar di seluruh dunia) sudah menjadi kebiasaan bahwa pada malamnya para pemuda-pemudi memadu kasih, nafsu, hilang arah mabuk kebayang terbuai oleh “tradisi” dalam momen tersebut.
Tak jauh-jauh dari momen itu, di bulan Februari pengusaha tertentu dalam bidang makanan sangat meraih keuntungan terbesar dari bulan-bulan lalu. Jika momen di bulan Februari ini dihapus, maka tentunya pengusaha tersebut akan protes besar. Tentu saja, kapan lagi semua orang akan membeli produknya kalau tidak pada event ini. Masa bodoh dengan adanya pertentangan agama dalam  perayaan event ini. Yang terpenting bagi seorang pengusaha adalah bagaimana bisa meraih omzet keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian sekecil-kecilnya. Ah, lagi-lagi tak jauh-jauh dari kapitalisme dan materialistis.

Lupakan momen spesial pada bulan Februari, karena Februari ini selalu menjadi bulan istimewa dari bulan-bulan yang lain. Ada satu hari di mana hanya didapatkan dalam tiap empat tahun sekali. Bulan ini pun menjadi bulan yang unik karena jumlah harinya yang lebih sedikit dibanding bulan-bulan yang lain. Sungguh senang bagi yang berulang tahun di bulan ini pada tahun di mana bilangan tahun tersebut habis dibagi empat. Namun, dia tepaksa harus berulang tahun lebih awal juga jika februari  terletak pada bilangan tahun yang menyisakan bilangan lain jika dibagi angka empat. Tak mungkin pula tak berulang tahun, walau hari ulang tahunnya tak ada.

Februari 2014, 2015, dan 2016 akan berbeda pengajiannya bagi tiap orang. Dalam sudut pandang hati, bulan ini seakan memiliki kisah yang serupa tapi tak sama. Bulan Februari pada ketiga tahun  ini seakan menjadi bulan yang hectic, galau, resah, cemas, dan menjadi lama sekali untuk dilalui. Februari seakan mengajak untuk belajar akan satu hal, yaitu madiri dan melepaskan. Ah, tidak. Februari mengajarkan banyak hal. Terkait sabar, ikhlas, teguh, tekun, dan pantang menyerah.

Februari 2014.
Hidup seakan terkejar dan terhantui deadline. Selalu bingung dan resah saat target tertunda satu hari. Pikiran terbelah menjadi dua. Konsentrasi tak terpusat pada satu titik. Seandainya raga ini bisa dibagi, maka saat itulah raga ini dibutuhkan untuk dibagi. Pagi hari melaksanakan permulaan  progress, sore hari ada  kewajiban pendahuluan belajar. Pertama kalinya dengan tekad kuat berlari dengan scuter kesayangan melintas perbatasan kota. Mungkin jika difilmkan dalam bentuk ftv judul yang pas adalah jungkir balik dunia Kaka. Selain itu, pikiran juga resah akan tetangga kanan kiri atas kemajuan progressnya. Di sisi lain, hati belajar akan keikhlasan dan legowo harus melepas cita-cita yang sedikit ngawang. Ya, banyak sekali pergolakan yang tak sempat terpikirkan karena kesibukan waktu.

Ferbuari 2015.
Berbeda dengan 2014 yang sangat sibuk hingga tak sempat berpikir dan berisalah hati, 2015 justru sering berisalah hati. Mungkin karna tak ada kerjaan atau sangking nganggurnya banyak sekali yang terpikir. Ide pokok dalam pikiran ini adalah bertema bingung. Bingung akan suatu hal yang tak pasti. Belajar tuk menghadapi hati yang dilanda kesepian. Partner penggalauan sejati tuk bercerita risalah-risalah hati atau sekedar menemani duduk santai melamun di universitas kehidupan telah pergi. Lebih komplitnya, belajar tuk mengikhlaskan sesuatu yang tak cukup layak dipikirkan secara detail. Sesuatu ini lebih baik jika dipasrahkan pada Yang Kuasa dan percaya bahwa ada skenario terbaik untuk kita semua. Sesuatu yang sepertinya tak pantas untuk diperjuangkan karna barangkali sudah pernah menggores hati. Ya, Februari 2015 belajar tentang ikhlas akan kehilangan partner kesayangan dan menerima kekecewaan rasa sesuatu itu.

Februari 2016
Tak berbeda jauh dengan 2016.  Tak ada kejelasan dalam sebuah status. Kekecewaan atas gagalnya meraih target. Februari ini juga belajar legowo pada dua hal. Lagi -lagi kesepian melanda. Sahabat yang setia menemani duduk-duduk cantik di universitas kehidupan telah pulang kembali pada tanah kelahirannya. Sesuatu yang serupa tapi tak sama pun terjadi dan pergi begitu saja. Namun, sesuatu ini tak pernah menggores hati, hanya saja membawa segudang keraguan. Walau segudang keraguan, namun entah mengapa sudut hati ini, pelosok hati ini, separuh hati ini, atau satu hati ini membuka pintu lebar-lebar bila sesuatu itu kembali lagi. Ah, Februari ini adalah Februari lonely setelah kepergian dua sahabat. Ya, dua. Sesuatu itu membuat satu sahabat lagi urung tuk muncul. Ah, andai waktu berputar lagi. Seharusnya sesuatu itu tak pernah terjadi. Lagi-lagi sesuatu itu tak berani kusebut apa itu. Sebenarnya tak yakin pula apa makna sesuatu  itu. Sedikit-sedikit rindu, sedikit-sedikit terpikir, sedikit-sedikit ragu, sedikit-sedikit takut, sedikit-sedikit menghindar, sedikit-sedikit menjauh, sedikit-sedikit pula mendekat,  serta sedikit-sedikit senang ataupun sedih. Ah, terlalu banyak sedikit hingga menjadi bukit yang susah tuk menjangkau. Penampakannya yang membukit membuat susah tuk terlupa  Hanya harus ikhlas saja bila kehilangannya dan tetap percaya Tuhan selalu punya skenario terindah bagi umatNya.

Februari yang unik #sigh…

Februari 2017

Bulan ini semakin sulit. Tinggal di kota perantauan tanpa kenal dengan siapapun. Tanpa teman ataupun saudara. Tinggal dan mencari sesuap nasi menghadang kerasnya dunia. Melihat sisi jahat sekaligus baik dunia. Belajar dari nol sesuatu yang sangat baru dan belum pernah didapat di bangku sekolah. Tak ada pula teman tuk berbagi. Teman dekat layaknya sahabat pun sudah angkat kaki, tak tahan oleh kerasnya dunia ibukota ini. Semua adalah resiko.

Bukan keluhan hidup di kota besar lah yang akan ditulis dalam cerita ini. Keluhan akan risalah hati jauh lebih berat.
Semua seakan nyata. Semua seakan tau bagaimana kita harus bersikap setelah tau fakta itu. Diri ini tau akan posisi ini terhadap dirinya. Terlihat dari foto uploadan itu, maka semua menjadi mungkin. Mungkin tuk berpindah ke lain hati. Maka sudah jelaslah decision ini. Saatnya berpindah ke lain hati. Saatnya untuk tidak menunggu. Saatnya untuk tidak berkhayal. Saatnya untuk tidak rapuh lagi. Saatnya untuk tidak bermimpi. Saatnya untuk tidak bingung lagi. Dan saatnya untuk melupakan.

Sungguh heran, begitu cepatnya Tuhan membolak balikkan hati. Baru dua bulan, hati manusia sudah berubah. Ah, mungkin bukan dua bulan. Kita tidak pernah tau kapan itu terjadi.

Saatnya melanjutkan hidup nyata yang terpampang di depan mata. Hidup dengan kenyataan-kenyatan yang keras, dan dingin. Suatu saat nanti mungkin bisa jadi akan menjadi lembut dan hangat. Kelembutan dan kehangatan itu masih ditunggu di depan tuk dijumpai. Perjalanan ini masih menghadang keras dan dingin minus negatif derajat. Mari terus lanjutkan perjalanan hingga mencapai kehangatan mentari dan kelembutan padang rumput.

Februari 2017..

Teritnggalkan. 
Dingin. 
Keras. 
Dan lets move from everything!!!!!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5