Saling Menunggu tapi Tak Saling Tau (3)


Waktu terus bergulir. Hari berganti hari. Seorang gadis sedang menatap langit di balik jendela rumah. Ya Tuhan, sebenarnya apa hakikat kehidupan. Apakah tujuan hidup sesimple itu yaitu masuk surga. Gaungan gelar sarjana, euforia wisuda, terasa baru kemarin dilakukan. Meski sudah dua tahun, tetap saja masih rindu akan kesibukan tugas-tugas kuliah. Tetap saja rindu akan alunan-alunan murotal pondok pesantren tempatnya tinggal saat merantau mencari ilmu di kota besar dulu. Ingin rasanya kembali ke masa dulu, di mana semua begitu sederhana. Tinggal menjalani apa yang diperintahkan oleh dosen dan menjalani rutinitas pondok. Saat ini, kita harus menentukan ingin jadi apa dan akan ke mana.  

Undangan pernikahan tergenggam di tangan Gadis itu. Beberapa menit yang lalu, ibunya bertanya dengan agak sewot, "Undangan pernikahan dari siapa lagi?" Dan pertanyaan selanjutnya bisa diduga adalah, " Nduk kapan?" Selalu seperti itu tiap Gadis itu menerima undangan pernikahan. Gadis itu hanya tersenyum simpul menjawab diplomatis, "Bila sudah waktunya dan telah dipertemukan dengan jodohnya, saya akan menikah." Seketika ibunya jengah meninggalkannya. Ibunya memang agak kesal, sebab anak-anaknya belum ada yang menikah. Sedangkan para tetangga sudah sering memperguncingkannya. Bagi ibunya, tak masalah meski anak terakhirnya yang menikah duluan, yang penting ada yang menikah. Namun, itu tak berlaku bagi Gadis itu. Dia sebagai anak terakhir wajib mendahulukan kakak-kakaknya terlebih dulu untuk menikah.



Entahlah, apa ini benar-benar alasannya tuk tidak menikah cepat-cepat. Atau mungkin karena dia sedang menunggu seseorang yang sangat diimpikannya saat sekolah? Atau mungkin dia sedang menunggu seorang laki-laki yang membuat hatinya tergerak dan melunturkan pertahanan kokohnya. Namun, entah aneh tapi nyata. Akhir-akhir ini, dia malah sering teringat dan terpikir teman yang semasa sekolah dulu membuntutinya, dan pantang menyerah tuk mendekatinya. Padahal sudah jelas-jelas dia memasang banyak lampu merah. Ah, kenapa si Gadis menjadi teringat akan pemuda gila itu? Apa karena gadis itu sudah mengubah anggapan buruk tentang pemuda itu? Atau mungkin ada suatu perasaan lain yang muncul tiba-tiba? Bayangan pemuda itu semakin sering muncul akhir-akhir ini. Ah, perasaan macam apa ini. Apakah gadis ini mulai membuka hati untuk pemuda yang memendam cinta gila padanya dulu? Entahlah, hanya saja si Gadis hanya terus berdoa untuk dipertemukan dengan jodoh yang terbaik untuknya. Siapapun yang dengan serius melangkah menuju rumahnya, dan diterima oleh kedua orang tuanya, itulah yang akan ia pilih. Memang, terkadang bilang cinta saja tak cukup. Pujian atau rayuan itu pun tak perlu. Yang dibutuhkan seorang makhluk bernama wanita adalah keseriusan yang berujung pada suatu kepastian dan menjalin sebuah komitmen terikat. Itu saja. Terkait hari-H itu hanyalah butuh rasa saling percaya.

" Ada yang lebih menyedihkan dari menunggu, yaitu saling menunggu tapi tak saling tau.  "

Sekian.....

read next story >>

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5