Saling Menunggu tapi Tak Saling Tau (2)
Canda tawa itu terus berlanjut, riang sekali kedengarannya. Sesekali pemuda itu melontarkan guyonan garing, melucu walaupun tak lucu namun disambut tawa oleh teman lainnya. Diapun ikut tertawa, riang sekali. Namun, dalam hati, sebenarnya dia tak terlalu larut dalam canda tawa itu.
Sesekali pandangan mata si Pemuda tertangkap jauh ke depan lautan luas. Sungguh indah lautan kota ini. Tidak, bukan lautan itu yang jadi sorotan. Seorang gadis yang sedang duduk sendiri menatap lautan luas itulah yang sedikit mengalihkan perhatiannya. Jauh, jauh, di dalam hatnya, sesungguhnya dia rindu tuk bertegur sapa dengannya. Rindu mendengar celotehan polos ala anak kecil darinya. Pemuda ini teramat rindu. Dalam hati dia brpikir, inilah saatnya. Gadis itu sedang sendirian. Inilah saatnya. Bukankah kau selalu menunggu kesempatan tuk berdua dengannya. Inilah saatnya. Sekedar duduk, ikut-ikutan memandang lautan karena bosan akan obrolan teman-teman tak masalah bukan. Inilah saatnya kau mengungkap semuanya. Menjelaskan semua alasan yang kadang menjengkelkan si Gadis. Inilah saatnya. Pemuda itu berpikir lama sekali. Si Pemuda mengurungkan niatnya. Lagi-lagi kesempatan berdua tuk membicarakan kejelasan sebuah hubungan terbuang sia-sia.
Pemuda itu bimbang.
Sesekali pandangan mata si Pemuda tertangkap jauh ke depan lautan luas. Sungguh indah lautan kota ini. Tidak, bukan lautan itu yang jadi sorotan. Seorang gadis yang sedang duduk sendiri menatap lautan luas itulah yang sedikit mengalihkan perhatiannya. Jauh, jauh, di dalam hatnya, sesungguhnya dia rindu tuk bertegur sapa dengannya. Rindu mendengar celotehan polos ala anak kecil darinya. Pemuda ini teramat rindu. Dalam hati dia brpikir, inilah saatnya. Gadis itu sedang sendirian. Inilah saatnya. Bukankah kau selalu menunggu kesempatan tuk berdua dengannya. Inilah saatnya. Sekedar duduk, ikut-ikutan memandang lautan karena bosan akan obrolan teman-teman tak masalah bukan. Inilah saatnya kau mengungkap semuanya. Menjelaskan semua alasan yang kadang menjengkelkan si Gadis. Inilah saatnya. Pemuda itu berpikir lama sekali. Si Pemuda mengurungkan niatnya. Lagi-lagi kesempatan berdua tuk membicarakan kejelasan sebuah hubungan terbuang sia-sia.
Ingin sekali bertanya kabar, bagaimana kemajuan proyek, atau sekedar ingin tahu kenapa si Gadis memilih duduk sendiri memandang lautan tak ikut mengobrol bersama kawan yang lain. Hal-hal basa-basi seperti itu juga diurungkannya.
Entahlah, mungkin si Pemuda ini berpikir tak ada gunanya juga rasa ini masih disimpan. Tak akan mengubah apapun bila perasaan yang menyesakkan dada ini diungkapkan. Biarlah si Gadis menjalani hidupnya dengan tenang tak tergnggu olehnya. Biarlah rasa tak wajar ini menghilang dibawa ombak lautan. Bukankah dia sudah bermaksud tuk mengejar gadis cinta gilanya dulu hingga sekarang? Tapi kenapa bayangan akan gadis yang ada di depan matanya ini selalu muncul.
Ah, perasaan macam apa ini. Perasaan ini tidak seharusnya ada. Biarlah gadis itu bahagia dengan menggapai asanya. Biarlah aku fokus dengan mengejar gadis cinta gila masalaluku. Tapi.. knapa perasaan rindu dan peduli yang teramat ini selalu muncul?
Lihatlah ke depan si Gadis yang tak pernah memarahimu walaupun sebenarnya dia sangat marah. Gadis yang tak cantik, tapi melihat senyum di wajahnya selalu menyenangkan dan membuat rindu. Gadis yang dengan polos tanya ini-itu, sampai kualahan menjawabnya. Gadis dengan kriteria yang jauh dari sosok wanita yang perfect. Namun, entahlah gadis ini membuat kurindu hingga sesak. Ingin kulanjutkan tuk mendekatinya. Tapi kuurungkan niatku. Aku hanyalah pengganggu baginya.
Lalu bagaimana dengan cinta gila masalaluku? Apakah aku sudah lupa? Apakah sudah tidak ada rasa? Ah tidak. Dia juga selalu terbayang dalam hatiku. Bimbang. Bagaimana bisa ada dua gadis daam benakku?? Pemuda itu bimbang.

Komentar
Posting Komentar