Saling Menunggu tapi Tak Saling Tau (1)
Lautan luas dibingkis dengan ombak bergulung-gulung, angin sepoi-sepoi, dibubuhi nyiur melambai-lambai, diiringi dengan lantunan Chrisye yang berlirik Sabda Alam. Tenang, damai, penuh syukur pada Tuhan. Seorang gadis duduk melamun dan termenung atau mengucap memuji syukur takzim terhanyut suasana damai ini. Jarang sekali mendapatkan suasana ini di kota padat penduduk, tempatnya tinggal dan menuntut ilmu. Suasana seperti inilah yang membuatnya betah berdiam sejenak tuk melepas penat akan peliknya masalah duniawi dan tuntutan masa depan. Duduk merenung di sini, memikirkan risalah kehidupan dan mencoba belajar tentang kata ikhlas dalam nasib hidup.
Dari kejauhan terdengar suara canda riang teman-temannya. Entah apa yang sedang dibicarakan teman-temannya, mungkin hanya sekedar melepas rindu karena sudah lama tak berkumpul seperti ini. Beberapa hari yang lalu, mereka masih disibukkan oleh aktivitas proyek masing-masing. Riang sekali mereka tertawa. Si gadis hanya memilih duduk menerawang melihat lautan luas sendiri. Saat ini, yang dibutuhkan gadis itu hanya kedamaian dan ketenangan. Sesekali gadis itu menoleh ke belakang tersenyum melihat tingkah riang teman-temannya. Betapa rindu dan senangnya mereka bisa berkumpul seperti ini, gumam si gadis. Gadis itu memilih melihat lautan luas juga karena terkadang dia tak tahu-menahu topik pembicaraan mereka. Ah, tidak bukan itu alasannya. Dia saat ini hanya butuh melepas penat, dan mencari ketenangan.
Di antara kerumunan teman-teman yang sedang bercanda riang itu, terdapat sosok yang sangat dirindukannya. Sudah lama dia tak bertegur sapa, atau berkirim-kiriman pesan. Ah, tapi apa boleh rasa rindu ini. Bahkan untuk rindu saja gadis ini merasa butuh “perizinan”. Ingin sekali rasanya gadis ini bertegur sapa padanya. Namun, hal itu diurungkannya, karena takut ada kesalahpahaman atau kelanjutan sebuah status. Banyak sekali pertanyaan yang ingin sekali terlontar dari gadis ini. Tapi, gadis itu memilĂ®h acuh, berlagak tak peduli. Si Gadis takut akan jawaban kepastian dari pemuda itu. Bukan takut dari sebuah kenyataan, namun takut tuk bertindak setelah mengetahui sebuah kenyataan.
Si gadis beranggapan sekarang bukanlah waktu yang baik. Ya, jangan sekarang, nanti saja. Namun, dalam hati, dia mengharap miris akan kejelasan dari pertanyaan yang selama ini menghujani hatinya. Hidup itu adalah sebuah pilihan. Pilihannya sekarang adalah memilih untuk diam tak bertanya dan fokus pada mimpinya. Mungkin, bisa jadi itu adalah pilihan tuk melepaskannya. Kata perpisahan, kata melepas, sebenarnya sangat enggan dan sakit baginya. Tapi apa boleh dikata. Hidup itu rasional. Apalah arti gadis itu bagi si pemuda. Suka saja tak pernah terucap. Mengharap cinta pada wanita lain bisa dibilang iya. Ya, biarlah pemuda itu mencari kebahagiaannya tuk bertemu dan meminang gadis impiannya. "Biarlah aku di sini masih menunggu dan berharap. Siapa tau kau terlambat barang satu detik melamar gadis impianmu dan berpaling padaku," gumam gadis itu.
Ingin
terus berharap? Jangan gila. Ingat, dia hanyalah seorang pemuda biasa
yang jauh dari kesempurnaan. Apa yang kau cari darinya? Entahlah,
berulangkali stikma itu dimasukkan dalam pikiran si gadis, namun tetap
tak bisa membuat gadis itu melupakannya. Mungkin, berharap seperti inilah yang bisa dilakukan si
gadis sebelum menemukan kekasih sejatinya. Atau mungkin menjadi seorang
penggemarnya juga tak buruk bukan? Gadis itu berpikir, saat ini hanya
ini yang bisa dilakukannya tuk menekan rasa itu. Rasa yang seharusnya
tidak boleh ini perlahan menjalar merasuki akal logis pikirannya, hingga
membuat sesak. Apalagi tuntutan dan kewajiban yang terus ada di depan
mata dan mendesak-desak seiring bertambahnya waktu.
“ Ah, tidak.. tolong
hentikan semua pikiran ini untuk saat ini, detik ini. Biarlah aku
menikmati alam, mensyukuri nikmat Tuhan, setidaknya untuk saat ini dan
sampai seterusnya biarlah aku melepas rasa itu. Biarlah rasa ini
terhempas dalam gulungan ombak laut selatan ini,” desah si Gadis.

Komentar
Posting Komentar