Si Gadis Bodoh
Ini adalah kisah tentang seorang anak gadis yang tak tau
apapun tentang cinta dan pria. Ah tidak. Terlalu polos jika dikatakan tak tau.
Mungkin lebih tepatnya seorang anak gadis yang terlalu mengedepankan perasaan
dan terlalu mendengarkan bisikan-bisikan lingkungan sekitar hingga terlupa akan
stigma-stigma kelogisan yang selama ini dia baca dari karya-karya pengarang
favoritnya. Ini adalah kisah gadis naïf dan bodoh. Ah tidak. Ini Cuma kisah
gadis biasa yang sedang menjejaki usia kedewasaan.
Alkisah.
Kisah ini bisa jadi lanjutan dari kisah-kisah sebelumnya (previous story.) Kisah tentang seorang si gadis. Dulu dan saat ini, pembahasan yang sama yaitu
kisah tentang gadis dan sahabat.
Seorang sahabat ini memang sudah lama perlahan menjauh.
Barangkali si gadis berpikir sahabat itu menjauh guna mencari asa tuk memenuhi
ridho’ ibundanya. Akan tetapi, si sahabat ini tidak benar-benar menjauh.
Terkadang dia muncul tiba-tiba layak jin atau hantu. Pergi dan datang
seenaknya, begitulah kata lagu-lagu masa kini.
Suatu hari si gadis bertanya pada sahabat, “Apa maksud dari muncul dan
hilangnya yang tiba-tiba seperti ini”. Pertanyaan ini baru saja terlontar
karena si gadis sudah tau asa yang akan dicapai akan ke mana dan ke mana pula
hati ini berlabuh. Lantas, jawaban apa yang diberikan oleh sahabat?
Sedih.
Perlahan menjauh karena tak ada ridho’ dari
ayah-bundanya. Tiba-tiba muncul karena perasaan yang masih mengakar. Begitulah
jawabannya. Tak ada jawaban pasti dari sahabat. Tak ingin jadi sahabat biasa,
namun tak ada daya tuk berjuang atas rasa yang dimiliki melawan kehendak ayah
bunda. Si gadis pun berpikir tak mungkin dan akan sangat durhaka jika dia
menyuruhnya tuk memperjuangkan rasa yang dimiliki dan melawan kehendak orang
tua. Tak ada hak pula baginya tuk menyuruh sahabat memperjuangkan rasa yang
dimiliki. Akhirnya si gadis hanya berkata,
“Tak perlu dirisaukanlah sekarang. Fokus menggapai asa
meniti karir saja dulu. Bukankah hal itu yang terpenting saat ini. Masalah
perasaan, jodoh, biarlah kehendak Tuhan”
Persepsi manusia memang
berbeda-beda. Itulah mengapa Tuhan menciptakan beragam manusia, yaitu
untuk saling melengkapi. Sesungguhnya manusia harus menyadarinya dan belajar
tuk memahami kata-kata implisit dengan sebuah, atau beberapa rentetan kalimat tanya. Benarlah jika peribahasa menyebut malu bertanya sesat di jalan. Harusnya
pula untuk keadaan yang dirasa butuh penjelasan, tak perlu menggunakan
kata-kata implisit. Buanglah segala gengsi, takut, merasa rendah, demi
kejelasan untuk sesuatu yang lebih baik.
Si gadis berkata seperti itu yang berarti dia masih menunggu hingga si sahabat memperoleh
restu dan berhasil dalam pencapaian asanya. Namun, dari sisi sahabat
berprasangka bahwa itu adalah sebuah kalimat perpisahan. Kalimat tuk memulai
lembaran baru.
Sebenarnya ini cuma masalah kalimat yang berujung pada
masalah pelik yang menyudutkan gadis nampak bodoh. Gadis tetap menunggu walau sahabat
tak kunjung menghubunginya. Dia tetap perhatian membantu sahabat meraih
karirnya walau semua hanya dijawab dengan kata grazie. Nama sahabat masih
terucap pada lantunan doa dalam sujud terakhirnya. Si gadis bodoh dengan girang
dan harap-harap cemas jika tiba-tiba sahabat menghubunginya sekedar say hai. Say hai yang dimaksud hanyalah
untuk menjalin silaturahim layak seorang teman. Ah, tapi si gadis naïf ini
sudah lupa akan prinsip silaturahmi. Jika menghubungi berarti masih suka, begitulah
logika wanita yang mengidap virus cinta. Logika sesat yang tak jelas diajarkan
oleh siapa dan darimana asalnya.
Lantas, sampai kapankah si gadis ini sadar akan
kedunguannya?
Pada suatu hari si sahabat mengunggah foto pada jejaring
sosial. Dari situlah semua masalah menjadi clear.
Sebenarnya tanpa perlu konfirmasi pun itu semua sudah jelas. Tak perlu lagi
dipertanyakan.
Lagi-lagi si gadis masih mendengarkan bisikan-bisikan
makhluk sekitar. Dia lakukan konfirmasi dan itu mempermalukan dirinya sendiri.
Ya. Sahabat itu sudah berubah. Dia sudah menggandeng gadis cilik nan rupawan.
Dengan begitu, berakhir sudah kisah tentang si gadis dan sahabat.
Pelajaran bagi kita semua. Tak ada perasaan yang bersifat
abadi. Tuhan sangat mudah membolak-balikkan hati manusia. Dulu suka, sekarang
benci. Dulu tak suka, sekarang sayang. Dulu teman, sekarang pasangan. Dulu
pasangan, sekarang tak saling kenal. Dulu saudara, sekarang pasangan. Dulu ada
rasa cinta, sekarang hanya rasa sekedar teman.
Begitulah hidup. Sebenarnya teori-teori ini sudah diketahui
dan dipelajari oleh si Gadis. Tapi dia lupa. Dia terbutakan sesaat. Dia khilaf
karena bisikan-bisikan lingkungan sekitar begitu kuat. Ya, bagaimanapun si
Gadis hanyalah manusia. Si gadis juga seorang wanita yang punya rasa benci dan
suka, serta mewarisi sifat-sifat kelabilan perasa.
Ending storynya…

Si gadis hanya bisa menangisi kebodohannya. Si gadis hanya
bisa melihat flashback kenangan bersama sahabat dan sahabat-sahabatnya. Ah
tinggal kenangan, pikirnya. Kenangan yang indah, lucu, manis, haru, asam, pahit
semua terekam di spot-spot favorit mereka bermain. "Bagaimana bisa kenangan ini
dikubur dan dilupakan?" pikirnya. Kenangan ini terlalu indah untuk dilupakan.
Ini bukanlah kenangan yang murni bersama sahabat. Kenangan ini terukir bersama
sahabat-sahabat karib yang sekarang masing-masing sudah kembali ke tanah
kelahiran mereka.
Tak rela tuk melupakan, si gadis memilih tuk menerima.
Sesungguhnya penerimaan adalah cara tuk berdamai dengan hati yang paling indah.
Si gadis menerima kenangan itu dan tersenyum.
“Aku pernah memiliki kenangan manis seperti ini dan tak
berakhir happy ending. Sesungguhnya semua adalah milikiMu dan akan kembali kepadaMu.
Tak perlu menyalahkan siapapun. Cukup berlapangdada menerimanya. Semua akan
indah pada waktunya. Jika memang tak bisa lupa maka biarlah. Esok hari mungkin
akan tertumpuk dengan kenangan yang lebih indah. Jika memang masih berbekas
maka biarlah. Suatu saat nanti bisa jadi rasanya akan biasa saja. Cuma tinggal
waktu saja”
“Jika saat ini masih terbayang dalam mimpi di waktu tidur,
maka biarlah. Esok hari mimpi itu akan terganti dengan mimpi yang lebih indah.
Entahlah mimpi itu terwujud atau tidak, tapi itu tetap mimpi. Atau bisa jadi
mimpi-mimpi itu suatu saat akan menjadi kenyataan. Nothing is impossible,
right?”
“Perjalanan ini masih panjang. Walau masih terbayang, walau
masih teringat, walau masih ada rindu, walau masih berharap, maka biarlah…”
“Tak perlu memaksa menghilangkan rasa itu. Tak perlu marah
bila semua rasa itu muncul. Tak perlu sumpah serapah bila ada rasa yang masih
tertinggal. Biarlah dan terimalah.”
Si Gadis terlelap sambil bergumam kalimat-kalimat yang
menentramkan hatinya. Dalam hatinya, dia bertanya,
“Bagaimana kelanjutan kisah pertemuan kembali yang dulu pernah mereka
janjikan?”
Ah sudahlah.. biarkan Tuhan yang menjawabnya.
....................................................
the answer is : final story
Komentar
Posting Komentar