Impian
Impian....
Perlu digarisbawahi apabila namanya kepastian, maka namanya bukan lagi mimpi. Impian adalah sebuah angan-angan. Sebuah lukisan perjalanan hidup. Lukisan yang menimbulkan sensasi yang luar biasa bila suatu saat akan terjadi pada subjek lukisannya. Begitulah mimpi. Mimpi itu indah, penuh ketidakpastian, menggairahkan, dan tak luput dari kegalauan. Hanya orang-orang yang optimislah yang berani bermimpi.
Terkadang setiap orang
selalu berkata optimislah terhadap mimpimu. Namun, ketika mimpi itu sudah
mendekati tak hingga, orang sering berkata jangan terlalu banyak bermimpi,
jalani yang pasti-pasti aja. Mereka berkata begitu dengan dalih mimpi tersebut
tak akan pernah terwujud atau sia-sia dalam pengejarannya. Andaikan, ada yang
tau kalau kelak mimpi itu akan terwujud, pasti akan lain ceritanya. Kalau memang
berlaku asas jalani yang pasti-pasti saja, lantas mengapa ada pepatah yang
berbunyi :”gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Pepatah ini benar-benar
membuat sebuah dilema. Andaikan slogan "nothing is impossible" dimiliki semua
orang, pasti tidak berlaku lagi asas jalani yang pasti-pasti saja. Sebutan
jalani yang pasti-pasti saja ini benar-benar menjerat orang untuk takut
bermimpi. Takut bila mimpinya tak pasti, takut bila mimpinya hanyalah
angan-angan belaka. Lebih-lebih takut bila tidak mengambil langkah-langkah yang
katanya “pasti” maka akan terjerumus dalam ketidakpastian yang berujung pada kegalauan
tingkat wahid. Katakutan seperti ini, asas kepastian itu, telah mengekang
seseorang dalam bermimpi. Telah mengekang kemampuan seseorang yang seharusnya.
Terlebih lagi asas ini telah mengekang kemampuan brilian yang tersembunyi dari
diri seseorang dan akan tersembunyi dan tak pernah terungkap. Sungguh, sangat
tidak beruntung orang yang mengalami hal tersebut.
Seandainya ada kepastian
dalam ketidakpastian mimpi, maka tidak akan terjadi kegalauan yang terhitung
besarnya. Kegalauan yang tak terukur dengan besaran paapun ini akan terus
beroperasi untuk menentukan solusi kepastian dalam ketidakpastian mimpi.
Seandainya solusi itu dapat dicari dengan postulat relativitas Einstein maka
semua orang akan tersenyum bahagia atau malah menangis bombay melihat kepastian
mimpinya di masa depan. Baik kepastian tercapai atau tidak, namun tetap berupa
kepastian.
Perlu digarisbawahi apabila namanya kepastian, maka namanya bukan lagi mimpi. Impian adalah sebuah angan-angan. Sebuah lukisan perjalanan hidup. Lukisan yang menimbulkan sensasi yang luar biasa bila suatu saat akan terjadi pada subjek lukisannya. Begitulah mimpi. Mimpi itu indah, penuh ketidakpastian, menggairahkan, dan tak luput dari kegalauan. Hanya orang-orang yang optimislah yang berani bermimpi.
“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” (Arai~Sang Pemimpi)
Komentar
Posting Komentar