Feeling while KP



Krik krik krik, suara jangkrik bersembunyi di balik rerumputan.
Kukuruyuk, suara ayam bersahut-sahutan menyambut mentari pagi.
Sesekali ada suara lebah mengitari kelopak bunga yang sedang mekar.
Suasana seperti ini jarang sekali terlihat di perkotaan.

Pada jam-jam segini, lalu lintas jalan raya sudah penuh, penuh polusi, polisi, penuh orang ingin berangkat kerja ataupun berangkat ke sekolah. Yang terdengar bukan lagi suara ayam, jangkrik ataupun lebah melainkan bunyi klakson yang bersahut-sahutan  memekakkan telinga. Semua kendaraan tidak mau mengalah dan ingin menguasai jalan raya. Orang-orang dikejar deadline aktivitas. Membuka mata hingga menutup mata kembali hanya terlihat gedung-gedung bertingkat khas perkotaan. Kalaupun ada hutan kecil atau lahan kosong, semua akan disulap menjadi perumahan, pertokoan, mall, atau bangunan-bangunan lain yang serupa dalam sekejap.

Berbeda dengan suasana pedesaan yang sepi, hangat dan tentram. Di sekeliling hanya ada pepohonan. Antar rumah terpaut jarak berpuluh meter. Tapi sayang, masyarakat desa ini mengesampingkan nilai rasional dan lebih mempercayai kepercayaan mereka yang jauh dari nalar. Masih banyak desa yg tidak berpikir modern. Misalnya, masih ada kebiasaan meninggalkan makanan sebagai sesembahan untuk orag yang sedang meninggal. Sungguh muspro melihat makanan yang terhidangkan dengan lezat itu menganggur sia-sia.
Hmh.. suasana desa yang hangat tapi juga menyesatkan.

(memoar of Jitengan village at Juli, 2013)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5