Regret in the Satisfaction

PROLOGUE...

Angka-angka bergelayutan. Semua rumus benar-benar ada di luar kepala, tak bisa masuk ke dalam kepala. Tik... tik... tik... detik demi detik berjalan. Dalam hal ini waktu barat emas yang amat berharga walau satu detik pun. Mataku menyelidik satu per satu tulisan dalam kertas itu. Kucoba pecahkan trik tuk menemukan sebuah huruf A, B, C, D atau E. Otakku berputar-putar seperti komedi putar. Berputar 1800, 3600 .... ah pening!
Otakku yang pening tak bisa diajak tuk berkompromi. Tapi ku tak kehabisan akal. Kucari alternatif lain. Kugerakkan bola mataku ke kanan dan ke kiri. Ke atas dan ke bawah. Yak, sekarang bola mataku sedang berputar-putar bagai bola yang sedang mencari gawang. Fhu fhu fhu rupanya ini jurus jitu. Kutemukan trik itu tanpa membuat otakku pening tapi membuat mataku sedikit juling. Tapi ku hanya menemukan melalui mataku, belum memecahkannya.
Psst... deg. Terdengar suara irih, sedikit canggung tapi penuh keberanian di tengah ketakutan. Ada yang memanggi namaku dan menanyakan sebuah huruf pada trik yang berbeda. Untungnya trik ini sudah kupecahkan. Tidak! Lebih tepatnya kudapatkan solusinya dari bisikan-bisikan makhluk di sekitarku. Singkatnya, aku melakukan barter trik dengan suara itu.
Diri ini benar-benar payah. Walau ku sudah tahu triknya, ku tak menemukan sebuah huruf atau dapat disebut sebagai solusi jawaban. Ku kembali pada masa-masa kritis dan pening. Tapi, tiba-tiba aku merasa ada seberkas cahaya datang menerangi otakku yang kian keruh ini. Tess.. setetes embun seperti jatuh menyejukkan pikiran dan kalbuku ini. Hanya dengan suara yang sama dapat membalikkan keadaanku yang tadi seperti sakratul maut. Ibarat sakratul maut, kini ada malaikat yang mengajakku ke surga.
Kali ini bukan hanya mata dan otakku saja yang berputar, tapi kepalaku ikut berputar kira-kira 900. Di samping aku menggerakkan kepalaku ke samping dan ke hadapan kertas, tanganku memegang pena menari lincah dan enerjik dia tas kertas untuk menorehkan tinta. Aku memforsir otot tanganku supaya bergerak lebih cepat dan tepat. Sementara kepalaku tak henti berputar menengok ke samping, namun sebentar-sebentar mataku awas terhadap pengawas. Tanganku bergerak enerjik dengan berani, begitu pula dengan kepalaku berputar tanpa ada keraguan dan ketakutan.
Teet... terdengar suara yang selalu ditakuti anak muda seusiaku yang sedang menjalani masanya sama seperti aku. Suara yang selalu membuat hati gundah gulana, pikiran melanglangbuana dan badan tergopoh-gopoh. Tepat saat itu aku menghentikan tarian penaku. Yap, semua kasus sudah kuselesaikan begitu pula dengan solusi jawabannya. Tak pernah aku sepuas ini pada periode yang sama. Aku memutar kepalaku ke samping lagi sama seperti beberapa waktu yang lalu. Aku tersentak kaget. Malaikatku sudah pergi. Meskipun hati ini puas, tapi ada sebersit kecewa di dalam lubuk hati ini. Ku tak sempat mengucap terima kasih pada malaikat yang telah membantuku pada masa-masa seperti sakratul maut tadi. Aku berpikir, ternyata Tuhan masih mengasihaniku dengan mengirimkan malaikat  beserta makhluk-makhluk yang baik hati untuk menolongku.
Terima kasih Tuhan......
Terima kasih malaikatku......

*boleh atau tidak aku tetap mengucapkan beribu terima kasih....

(Rabu 140910 pasca math test)



Read also:
Angel Life 
Not Perfect
Forget It! 
Decision... 
Epilogue  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5