Si Pemilik Senyum Ayu




Raut wajah itu, senyuman hangat itu, tatapan sejuk itu selalu mendinginkan panasnya hati dan mnjernihkn keruhnya hati. Hati yang mencari-cari arah haluan serta pikiran yang tak tentu menelisik kemana-mana ini, selalu tentram bila mendengar suaranya. Suara ini  tak lantang, tak merdu pula, tak nyampai delapan oktaf, tak meliuk-liuk layak cengkok melayu. Namun mendengar suaranya seperti siraman rohani dingin layak embun di pagi hari. Suara bijaksana ini sungguh membuat rindau dan damai. Tak ada permasalahan yang sulit karena mendengar suara ini.

Si pemilik suara ini semakin hari bertambah usia. Rambut ubannya semakin hari semakin menumpuk. Raut wajah yang dulu ayu sudah penuh dengan keriput. Aura enerjik masa remajanya sudah terpenuhi dengan kelelahan akan perihnya kehidupan. Namun, tatapan sayu dan bijak itu tak berubah, tetap sama. Mendamaikan hati.

Apa yang bisa membuat wajah itu terus tersenyum?
 Apa yang bisa membuat wajah itu terus memancarkan aura bahagianya?
Kebanggaan atas kecerdasan anaknya kah? Mungkin iya, tapi masa itu sudahlah lewat.
Penghentian akan letihnya beban cari nafkah kah?
Ini sudah saatnya. Saatnya bagi generasi muda tuk mencari dan mengais-ngais sepersen nafkah. Sudah saatnya si pemilik senyum bijak itu berhenti menghadang kerasnya kehidupan. Sudah saatnya si pemilik wajah sayu itu berleha-leha menikmati hari tuanya.
Namun, kawan....
Generasi muda ini belum siap. Generasi muda ini masih terbelenggu oleh runyamnya pelik tuk melaju ke strata dengan bonus gelar pemberian. Generasi muda ini lelah dengan peliknya remeh temeh  itu. Ingin segera menyelesaikan, tapi tak mampu. Ingin berhenti, tapi disitulah secuil harapan dari pemilik senyum itu.
Tuhan...
Bagaimana membahagiakan si pemilik senyum itu?
Tuhan...
Tak ada yang terpikir atau tujuan lain selain kebahagiaan dari si pemilik senyum itu. Kerja keras serta bisa dibilang melupakan sesuatu yang terbenam dalam hatinya itulah yang dipilih generasi muda demi tuk melihat senyum lelahnya. Senyum itu berangsur telah padam akibat penyakit menahun yang dideritanya. Ceracau-ceracau tua darinya kian nampak.
Tuhan..
Biarkan beban pemilik senyum  itu terlimpahkan pada generasi muda. Walau itu akan membuat generasi muda kehilangan akan masa depan yang diimpikan, kehilangan akan rasa yang tak bisa terlupa. Hati ini ikhlas demi melihat kembali senyum itu. Bukan senyum lelah, senyum sakit. Namun senyum bahagia lepas penuh bahagia tanpa beban dan rasa sakit.
Tuhan...
Izinkan generasi muda ini melangkah. Ridhoi generasi muda ini tuk melukis seyum di wajah tua itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5