Beasiswa untuk Aktivis atau Akademis?

Beasiswa untuk  
Aktivis atau
Akademis ..??




                   Baru-baru  ini terlihat kesibukan mahasiswa Universitas Brawijaya yang berbondong-bondong  mengantri di rektorat dan fakultas untuk memvalidasi berkas. Apa yang terjadi? Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, tepat pada semester genap UB membuka pendaftaran beasiswa PPA dan BBM. Tentu kita sudah tahu apakah beasiswa PPA dan BBM itu. Beasiswa PPA adalah beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang berprestasi di bidang akademik dan non akademik, sedangkan beasiswa BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa) yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi. Pada prakteknya, mahasiswa tidak memilih atau mengajukan sendiri pada jenis beasiswa mana yang sekiranya sesuai dengan dirinya. Melainkan pihak rektorat yang akan memilih mahasiswa tersebut layak untuk mendapatkan beasiswa apa. Yang menjadi pertanyaan disini, rektorat memilih para pendaftar beasiswa ini dengan lebih memprioritaskan kriteria seperti apa. Apakah lebih diutamakan jumlah IP, aktif organisasi atau pun keadaan ekonomi. Walaupun dari kedua beasiswa tersebut sudah memiliki  prioritas yang berbeda, namun mahasiswa pendaftar beasiswa memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan salah satu beasiswa tersebut. Misalnya, untuk penerima BBM apakah mahasiswa yang IP nya hanya 2,8 dengan penghasilan orang tua 500.000, bisa mendapatkan beasiswa  dibandingkan mahasiswa yang IP nya 3.00 namun penghasilan orang tua sedikit lebih baik yaitu 800.000? Begitu pula pada PPA Non Akademik dan Akademik. Apakah tidak sebaiknya para mahasiswa diberi pilihan untuk mendaftar pada beasiswa yang mana? Dengan begitu akan mengerucutkan persaingan dan memperbesar peluang mahasiswa mendapatkan beasiswa serta mempermudah kinerja rektorat dalam proses penyeleksian berdasarkan prioritas jenis beasiswa yang dipilih. Atau mungkin rektorat memiliki maksud dan tujuan lain dengan memilih sendiri pendaftar layak untuk mendapat beasiswa apa? Basic akan mencoba memaparkan tujuan, latar belakang dan manfaat beasiswa ini yang mungkin dapat dikaitkan dengan prioritas kriteria penerima beasiswa. Lebih jelasnya, kita harus mengetahui sebenarnya apa sih latar belakang dari diadakan beasiswa ini. 

                Beasiswa PPA dan BBM merupakan beasiswa yang diberikan DIKTI dan dikelola oleh Universitas Brawijaya. Tujuan dari DIKTI mengadakan beasiswa ini adalah untuk meningkatkan akses dan  pemerataan kesempatan belajar di perguruan tinggi bagi rakyat Indonesia, mengurangi jumlah mahasiswa yang putus kuliah karena tidak mampu membiayai pendidikan. Selain itu, DIKTI juga memiliki tujuan agar beasiswa ini dapat meningkatkan prestasi dan motivasi mahasiswa, baik pada bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler,  maupun ekstrakurikuler. Sedangkan pihak Universitas Brawijaya mengungkapkan bahwa penyeleksian beasiswa yang dilihat pertama adalah nilai IP, kemudian faktor lainnya. Sehingga dapat ditulis disini bahwa tujuan dibukanya beasiswa ini menurut pihak Universitas Brawijaya hampir sama dengan DIKTI namun lebih terarah pada poin ketiga, yakni  peningkatan prestasi dan motivasi mahasiswa, baik pada bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler,  maupun ekstrakurikuler.
                Selain DIKTI dan rektorat yang berhubungan langsung dengan pengurusan beasiswa adalah BEM dan EM. Menurut Ahmad Rizqol M, Dirjen beasiswa EM yang mengurus validasi berkas calon penerima beasiswa, “ DIKTI memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang secara ekonomi kurang berprestasi. Kesempatan juga diberikan untuk mahasiswa yang kemampuan orang tuanya cukup, nilai pas-pasan tapi aktif di organisasi. Jadi beasiswa tidak hanya diberikan pada mereka yang mempunyai prestasi akademik tapi juga diberikan untuk mahasiswa yang notabene seorang aktivis.” Ahmad pun membeberkan persyaratan untuk mendapat beasiswa PPA dan BBM serta kriteria masing-masing dari beasiswa tersebut. “Sebenarnya persyaratan mendapat PPA dan BBM sama. Hanya saja dibedakan pada IP. IP dengan rentan 2.5-2.75 hanya bisa mendapat BBM. IP dengan rentan 2.75 – 3.00 bisa dapat PPA Non akademik dan BBM. Lalu untuk IP di atas 3 bisa memperoleh ketiganya,” terang Ahmad. Dari pemaparan Ahmad dapat diperoleh kesamaan antara pihak rektorat yakni yang dilihat pertama dalam proses penyeleksian beasiswa adalah IP.
                Lantas bagaimana dengan pendapat mahasiswa? Pihak yang secara langsung terkait akan beasiswa adalah mahasiswa.  Tim redaksi basic berhasil melakukan reportase melalui kuisioner dan wawancara langsung kepada beberapa mahasiswa untuk mengetahui pendapat mahasiswa tentang beasiswa dan untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan beasiswa oleh mereka.
Berdasarkan kuisioner, ternyata banyak juga mahasiswa yang masih belum pernah mendapat beasiswa. Dari mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa, 95 % mengaku bahwa beasiswa sangat bermanfaat dan diperlukan karena selain dapat meringankan beban kuliah juga dapat mendukung agar dapat memotivasi mahasiswa agar semakin rajin kuliah. Berdasarkan informasi, rata-rata mahasiswa memanfaatkan untuk membiayai kuliah. Asharina dwi paramita, salah satu penerima beasiswa PPA tahun 2011 mengatakan memanfaatkan beasiswa tersebut untuk membantu meringankan beban orang tua. “Beasiswa itu sendiri bisa digunakan untuk membayar SPP kurang lebih tiga semester, jadi belajar untuk nggak tergantung orang lain,” ujarnya. Lain lagi dengan Dinda Rinai, penerima beasiswa PPA sejak tahun 2009 memanfaatkan beasiswa tersebut untuk menunjang kebutuhan kuliah salah satunya dengan beli printer. Ada juga mahasiswa yang benar-benar tergantung pada beasiswa yang pemanfatannya untuk membiayai kuliah dan mencukupi kebutuhan hidup.
Sebanyak 52 % mahasiswa MIPA menganganggap beasiswa yang didapat sudah sesuai dengan yang yang diharapkan. Namun ada juga yang menganggap tidak sesuai harapan karena jumlahnya masih kurang dan kadang tidak tepat sasaran. Nah, tidak tepat sasaran disini maksudnya seperti apa? Apakah selama ini beasiswa memang mengandalkan bukti-bukti fisik yang terkadang memang tidak sesuai dengan kenyataan? Atau sebenarnya sasaran dari beasiswa ini kepada siapa? Pertanyaan ini mengulas pembahasan kita di awal bahwa mana yang lebih diprioritaskan  jumlah IP, aktif organisasi atau keadaan ekonomi untuk mendapatkan beasiswa (entah beasiswa PPA, BBM, ataupun beasiswa yang lain). Pihak DIKTI mengungkapkan bahwa untuk beasiswa PPA diprioritaskan pada mahasiswa IPK paling tinggi sedangkan BBM diprioritaskan pada mahasiswa yang (orang tuanya) paling tidak mampu. Sama seperti DIKTI, namun UB lebih memprioritaskan jumlah IP. Sedangkan beberapa mahasiswa yang berharap bahwa beasiswa ini tidak hanya diberikan kepada mereka yang kurang beruntung dari ekonomi tapi diberikan untuk mereka yang benar-benar berprestasi. Menjawab pertanyaan pada awal paragraf artikel ini, mengapa mahasiswa tidak diberi pilihan untuk mendaftar pada beasiswa yang mana (PPA atau BBM). Sedangkan kriteria dari UB (rektorat) adalah prioritas prestasi mahasiswa. Bisa jadi, alasan rektorat agar mahasiswa lebih termotivasi untuk berprestasi sehingga semuanya akan berlomba-lomba untuk mendapatkan beasiswa yang kriterianya utama adalah prestasi akademis. Bisa disimpulkan disini bahwa untuk mendapatkan beasiswa, mahasiswa harus mendapatkan IP yang bagus. Lantas bagaimana dengan aktivis kampus? Seorang aktivis juga dikatakan berprestasi, namun jumlah IP lah yang pertama kali diperhitungkan pada penyeleksian beasiswa. DIKTI sendiri memperhitungkan prestasi di kegiatan ko/ekstra kurikuler (olahraga, teknologi, seni/budaya tingkat internasional /dunia, Regional/Asia/Asean dan Nasional) setelah memperhitungkan jumlah  IP. Jadi apakah bisa dikatakan prestasi akademis lebih diutamakan dari aktivis, atau aktivis  berada di ururtan kedua setelah prestasi akademis?
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part 3

Guys, do you read it?

part 5